BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Obat Manjur Rupiah

Belum selesai tekanan dari perang dagang dan ancaman suku bunga yang dipicu Amerika Serikat, rupiah harus kembali tertekan sebagai akibat dari rekan sesama emerging markets (EM) Turki. Lira yang tertekan memiliki efek idiosinkratik kepada Indonesia yang berada pada satu keranjang EM bersama dengan Turki, Brazil, India. Meski tekanan telah mereda, namun efek kelembaman ekspektasi masih tetap menjalar dalam. Belum lagi ditambah dengan rentang Neraca Akun Semasa (Current Account Deficit) yang malah semakin lebar. Bagaimana rupiah bisa selamat?

Untuk meredam ekspektasi yang liar, yang terkadang berubah menjadi spekulasi jahat, seorang ekonom pemenang nobel kesohor, Paul Krugman, pernah memberikan sebuah resep mujarab. Krugman berpendapat bahwa tidak bisa tidak, aksi spekulasi harus segera dipangkas oleh kontrol modal (capital control) yang melekat tegas. Pendapat Krugman boleh jadi sebuah antitesa tren arus lalu lintas modal bebas namun pengalaman Malaysia dan Korea Selatan di tahun 1998 serta Argentina di tahun 2002 bahkan Turki di awal minggu ini menjadi bukti sahih ampuhnya kontrol modal tersebut untuk melipat aksi spekulasi yang berlebihan. Tentu kontrol modal ini sifatnya sangat temporer mengingat jika digunakan secara berlebihan malah akan menjadi kontraproduktif. Sehingga menurut Krugman, yang menjadi mantra kebijakan adalah bersifat heterodoks di jangka pendek sembari menjamin kredibilitas kebijakan yang bersifat ortodoks dijangka panjang. Jadi ini adalah bagai seni menekan pedal rem dan gas yang akan menghasilkan keseimbangan baru di masa mendatang.

Argumen Krugman sejatinya tidak benar-benar baru, adalah James Tobin seorang pemenang nobel dan “die hard” nya Keynes yang pertama kali memberikan sebuah istilah teknis yang tersohor dengan nama “Tobin Tax”. Idenya adalah bagaimana arus modal jangka pendek bisa ditahan dengan sebuah sanksi (pajak) pada setiap aksi transaksi spekulatif di jangka pendek. Hal ini memang cukup kontroversial jika diterapkan mengingat kemungkinan efek negatifnya yang juga lumayan besar. Pembuat kebijakan perlu dibekali keahlian tinggi sebagaimana Sean Boswell dalam Sekuel film Fast and Furious Tokyo Drift, dibekali teknik nge-drift tingkat tinggi oleh Han untuk bisa berkompetisi dengan “the drift king” Takashi. Jika Sean adalah Pembuat kebijakan dan Takashi adalah spekulan, maka Teknik drift yang dimaksud adalah kontrol modal. Jika tidak berhati-hati maka jurang menanti. 

Potensi kehilangan kepercayaan internasional tinggal disela nadi yang berujung arus deras modal keluar. Mengerikan!

JIka demikian, apakah pemerintah memiliki keberanian tersebut? Jika tobin tax terdengar terlalu menakutkan, maka sebenarnya ada solusi lain berupa “reverse tobin tax yang mana pada prinsipnya masih berlokus pada kontrol modal namun dengan perspektif yang berbeda. Kebijakan ini memberikan insentif kepada para pemodal jika mereka mau berlama-lama tinggal di Indonesia dengan melakukan investasi jangka Panjang. 

Bagaimana dengan Bank Indonesia? Apakah kenaikan 7 days repo rate secara agresif adalah langkah yang tepat? Rupanya, jika melihat tren historikal, karakter rupiah terhadap kenaikan suku bunga cenderung non-monotonic. Karakter yang non-monotonic ini menyiratkan bahwa kenaikan suku bunga yang tidak terlalu tinggi akan memiliki kecenderungan untuk membuat rupiah terapresiasi namun kenaikan yang agresif justru membuat rupiah terdepresiasi. Ibarat Panadol, cukup diminum 3 kali sehari, jika lebih maka efeknya malah bisa merusak tubuh. 

Perlu ada pendalaman pasar sehingga bisa melibas pengaruh asing yang mendominasi portofolio jangka pendek. Instrumen kebijakan pun perlu dibuat lebih kaya sehingga bisa menampung para pemodal domestik yang miskin pilihan dan kering secara kapasitas.(Pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif