BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti di CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilization), mantan Anggota Komisi I DPR RI  
OKI, Dunia Arab, dan Masa Depan Palestina

Keputusan kontroversial Donald Trump terkait Yerusalem harus ditolak, karena bukan saja bertentangan dengan sikap PBB yang dituangkan dalam sejumlah resolusi, juga bertentangan dengan posisi politik Amerika sendiri yang ditunjukan pada Perjanjian Damai Arab-Israel, dan Perjanjian Damai Palestina-Israel. Karena itu, wajar jika keputusan Trump menimbulkan penentangan dari dunia internasional termasuk dari sekutu-sekutu dekat Amerika seperti Inggris dan Perancis.

Negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI, dalam KTT-nya di Istanbul yang dihadiri oleh 57 negara, berhasil mengambil keputusan bulat, bukan saja menentang keputusan Trump yang ingin memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, akan tetapi juga membuat keputusan tandingan yang mendukung keinginan Palestina menjadikan Yerusalem Timur menjadi ibu kotanya. Kini skor menjadi 1 lawan 57 dengan keunggulan di pihak Palestina.

Keunggulan politik Palestina ini bisa tidak menghasilkan keputusan politik yang bermuara pada kemerdekaan Palestina dengan ibukota Yerusalem Timur, mengingat beberapa hal: pertama, negara-negara yang paling gigih di KTT Istambul seperti Turki, Indonesia, dan Iran bukan merupakan bagian dari negara Arab. Kedua, sebagian besar negara-negara Arab yang bertetangga dengan Israel yang berkali-kali mengalami perang, kini sibuk dengan urusan dalam negerinya masing-masing. Ketiga, sejumlah negara Arab kini sedang bertikai, Arab Saudi yang didukung oleh Mesir, UAE, dan Bahrain versus Qatar, lalu Arab Saudi yang didukung negara-negara Teluk yang tergabung dalam GCC versus Yaman. Keempat, retorika persaingan berebut pengaruh di kawasan antara Saudi Arabia versus Iran sudah melampaui akal sehat. Saudi Arabia telah menempatkan Iran sebagai prioritas yang harus dihadapi dibanding Israel. Bahkan demi menghadapi Iran, Saudi Arabia menjalin hubungan diam-diam dengan Israel.

Tanpa dukungan penuh dan sungguh-sungguh negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab yang secara geografis maupun historis paling berkepentingan dengan Palestina, upaya untuk membela Palestina akan sangat mudah dimandulkan.

Karena itu, di samping kerja-kerja politik menekan Amerika dan Israel yang bolanya kini bergulir ke PBB, yang juga tidak kalah penting upaya menekan negara-negara Arab untuk meninggalkan ego masing-masing dan segera menghentikan pertikaian diantara mereka. Jika negara-negara Arab bisa berdamai dengan Israel, apa susahnya Saudi Arabia berdamai dengan Iran? (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)