BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen STAIN Bengkalis
Nurhadi dan Psikologi Politik Masyarakat

Demokrasi yang diharapkan mampu menyalurkan hak-hak politik agar semakin dewasa,nampaknya masih ilusi. Keinginan yang besar demokrasi bisa menjadi pesta politik yang sehat, justru menimbulkan kegaduhan yang membahayakan kesatuan dan persatuan sesama anak bangsa. Hampir tiap waktu, informasi yang tidak sehat terus bergerak dan mempengaruhi psikologi masyarakat. Ini terbukti muncul ekpresi masyarakat dengan cara positif dan negatif.

Fenomena Nurhadi-Aldo adalah suara rakyat yang menginginkan perpolitikan yang sehat. Keduanya, berusaha masuk pada wilayah moral dengan menyampaikan pesan-pesan damai kepada masyarakat sekaligus kepada paslon capres. Paling tidak Nurhadi-Aldo sedang mengajak berbahagia dalam berpolitik. Karena mereka yang sedang bertarung bukan musuh, tapi saudara kita yang sama sama punya niat untuk memperbaiki bangsa Indonesia semakin baik. Tidaklah pantas sesama saudara semakin memghujat,bukan?

Kita memang tidak bisa berharap denga Nurhadi-Aldo. Mereka hanya rakyat kecil yang tidak punya kekuatan apa-apa. Namun suara hati yang se-ide dengan mereka cukup banyak. Ia telah menyalurkan energi kepada masyarakat untuk sama-sama optimis dalam melalui proses demokrasi dengan penuh ceria. Anggaplah yang lalu biarlah berlalu. Konflik atas nama apapun sudah saatnya ditutup rapat-rapat. Jangan kotori lagi, pesta demokrasi dengan isu-isu murahan seperti isu agama, suku, etnis dan budaya. Karena selain riskan menjadi penyebab ketegangan politik, tentu siapapun tidak mau jika pribadinya yang paling sakral diungkit dalam ruang publik.

Ketulusan Nurhadi-Aldo adalah ketulusan masyarakat Indonesia. Bangsa yang lahir dari keberagaman jangan sampai melahirkan sentimen SARA, yang berdampak pada buruknya perpolitik di masa yang akan datang. Bukankah keberagaman hadiah terindah Tuhan diberikan kepada bangsa Indonesia?

Pesan perdamaian yang disampaikan capres 10 fiktif ini sebenarnya menyentil para capres dan timnya. Apakah ini mampu menggugah kesadaran bersama atau hanya anggap angin lalu belaka, kita hanya bisa melihat perilaku politik mereke disisa-sisa kampanye saat sekarang ini.

Tentu tidak ada kata terlambat untul melakukan rekonsiliasi politik. Komitmen yang telah dibangun bersama masa lalu yang bertekad menciptakan demokrasi sehat perlu segera dilakukan. Para elite sudah saat nya menunjukan kearifan yang agung mendidik dan mengajak masyarakat untuk bersama menciptakan stabilitas politik yang penuh dengan keagungan. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

FOLLOW US

Perempuan yang Terlibat dalam Terorisme Merupakan Korban             Kelompok Radikal Di Indonesia Telah Bertransformasi             Anggaran Apel Kebangsaan Kurang Proporsional             Apel Kebangsaan: Mestinya Undang Tokoh dari Dua Kubu             Utang Luar Negeri dan Cadangan Devisa             Pengelolaan Utang: Apakah Efektif dan Efisien?             Korupsi Politik Makin Menjadi-jadi             Awal Reformasi, PPP Gigih Dukung Pembentukan UU KPK             Kinerja Memang Naik,Tapi Bukan Akselerasi             Harus Menunggu Laporan Keuangan Resmi BUMN