BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Country Director Greenpeace Indonesia
Mitigasi Bencana Memerlukan Political Will Yang Kuat

Sejak tsunami yang menimpa Aceh pada tahun 2004 kesadaran masyarakan akan bencana mulai tumbuh. Kesadaran bahwa Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dan ring of fire sudah meningkat. Meski masih banyak yang harus dikerjakan terkait mitigasi bencana.

Untuk mitigasi bencana sebenarnya penting dan harus. Tetapi membutuhkan kerja sama antar pihak yang berkaitan. Jadi, masalah utama adalah kesadaran untuk punya frame mitigas bencana dan analisis risiko bencana belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku-pelaku pembangunan. Khususnya banyak Pemerintah Daerah (Pemda) yang belum paham.

Kemudian, soal perencanaan pembangunan tidak memprioritaskan mitigasi bencana, tidak mempersiapkan resources serta tidak memiliki political will. Hal ini akhirnya menyebabkan pelaksanaan mitigasi bencana tidak memiliki perkembangan yang signifikan di lapangan.

Tetapi memang situasi Indonesia lumayan kompleks. Secara tektonik, vulkanik dan bahkan secara hidrometeorologis juga Indonesia rawan. Sebagian besar bencana di Indonesia adalah hidrometeorologis. Artinya, disebabkan oleh iklim kombinasi dengan pergerakan air tanah. Hidrometeorologis sudah pasti human made, antropogenik bisa dicegah dengan melakukan mitigasi atau bisa juga diperburuk oleh kelakukan manusia.

Secara tektonik dan vulkanik sebenarnya dua jenis bencana yang sampai saat ini bersifat natural disaster. Dimana, bisa melakukan pencegahan kerusakan yang lebih lanjut adalah urusan manusia, pemerintah dan masyarakat. Tetapi penyebab bencananya sendiri sangat natural.

Umumnya bencana di Jawa Tengah dan Jawa Barat kebanyakan bencana adalah longsor. Kejadian banjir bandang di Sulawesi Selatan juga disebabkan rusaknya aliran sungai karena deforestasi atau penggundulan hutan.

Dalam skala yang lebih besar, misalnya Jakarta daerah hulu sungai Ciliwung sudah mengalami kerusakan sama sekali. Jika dikaitkan dengan frame perubahan iklim mitigasi harus dilakukan. Sebab, bencana iklim juga sudah terjadi di Indonesia karena adanya perubahan iklim. Karena Indonesia tidak berada di jalur angin topan seperti Filiphina jadi tidak terjadi kekeringan panjang.

Namun, perubahan iklim memperparah kondisi. Dalam sepuluh tahun terakhir secara global, adalah tahun terpanas sepanjang sejarah pengukuran suhu oleh manusia. Sudah konklusif terjadinya perubahan iklim. Kalau di Filiphina berpengaruh pada badai tropis yang semakin banyak dan semakin kuat. Tetapi kebetulan Indonesia tidak berada di jalur itu.

Mitigasi bencana di Indonesia memerlukan political will yang sangat kuat. Perlu ada pemahaman bahwa kita hidup di suatu wilayah yang rawan bencana. Dan diperlukan adanya program pembangunan yang konkrit, baik dari pembangunan infrastruktur sampai dengan pendidikan masyarakat.

Jepang melakukan mitigasi dengan kombinasi pembangunan infrastruktur yang tangguh bencana dan juga pendidikan kepada masyarakat yang intens menyentuh seluruh kalangan masyarakat, dan terjadi internalisasi. Kecuali bencana yang sangat besar sembilan skala richter.

Dua hal tersebut bisa berjalan jika sumber dayanya cukup. Mitigasi bencana ini harus masuk dalam hitungan ekonomi dan pembangunan kita. Karena jika bencana sudah terjadi loses-nya besar bisa hingga triliunan rupiah. Maka mitigasinya dilakukan dengan penguatan infrastrukur yang tahan bencana dan kode bangunan. Kode bangunan harus diimplementasikan dan dilakukan monitoring terhadap bangunan. (yed

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF