BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Mimpi, Menjadikan Modal Asing sebagai Mesin Kesejahteraan Rakyat

Singapura adalah negara yang dibangun oleh modal asing. Namun bagi founding father negara kota ini, Lee Kuan Yew, ini tak menjadi masalah. Bagi Lee, yang penting modal yang datang dari segala penjuru dunia ini bekerja untuk Singapura.

Lee paham betul bagaimana cara menjadikan mereka mesin untuk mensejahterakan rakyatnya. Yakni memberi mereka kebebasan dan penegakan hukum yang ketat sekaligus. 

Di Indonesia, kini liberalisasi dijalankan dalam jalur supercepat. Bayangkan, dalam 2,5 tahun terlahir 15 paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan. Semua paket ini didominasi oleh liberalisasi ekonomi.

Sayangnya penegakan hukum tetap berjalan di jalur superlambat. Bahkan, kalau dilihat dari serangan bertubi-tubi terhadap KPK oleh DPR, malah tampak berjalan mundur.

Tak kalah mengenaskan, di tengah tekanan yang menghebat terhadap KPK, keseriusan pemerintah memberantas korupsi masih tampak setengah hati. Hal ini terang benderang dari obral remisi kepada para terpidana kasus korupsi yang tetap dilakukan.

Para bandar besar bisnis yang sudah lama mengangkangi perekonomian nasional tentu paham betul pada situasi ini. Apalagi kini mereka tak hanya bermain sebagai bandar Parpol dan politisi dari balik layar, namun juga terjun langsung sebagai politisi papan atas.

Dalam posisi seperti itu, mereka tentu makin perkasa untuk menekan semua upaya membangun struktur ekonomi berkeadilan sosial. Maka jangan heran bila kecenderungan orang kaya makin berkuasa di tengah kemiskinan yang merajalela tetap kuat.

Kenyataan di atas mencerminkan bahwa perekonomian nasional mudah dijadikan sapi perah untuk kepentingan pribadi. Hal ini akan terus berlangsung selama penegakan hukum lemah, dan para bandar bisnis menguasai kendali politik demi keuntungan pribadi.

Sialnya lagi, sebagaimana ditengarai oleh Yoshihara Kunio, para bandar bisnis ini sesungguhnya komprador dari jaringan bisnis multinasional. Inilah sesungguhnya yang membuat modal asing makin sulit dikendalikan untuk kepentingan nasional.

Mengendalikan pengusaha nasional juga tak kalah rumit. Sudah berulang kali terbukti mereka suka mengemplang pajak, tak perduli pada lingkungan, mengabaikan kesejahteraan karyawan, dan menyembunyikan duit di sorga pengemplang pajak seperti Panama dan Cayman Island.

Maka, kalau sekarang ini ada yang berharap Indonesia bisa menjadikan modal asing sebagai mesin yang bisa dikendalikan untuk kesejahteraan rakyat, sebaiknya simpan dulu harapan tersebut. Apalagi para pemodal nasional juga banyak yang sekadar mencari profit di Indonesia untuk ditebar ke luar negeri, termasuk ke sorga pengemplang pajak. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan