BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)
Mewaspadai Dampak Perang Dagang China-Amerika

Belum ada tanda-tanda perang dagang China-Amerika akan berhenti, bahkan cenderung meningkat dengan saling balas pengenaan tarif tambahan dan semakin banyaknya barang yang terkena kenaikan tarif. Bagi Indonesia meskipun ada dampak positifnya, tetapi lebih banyak dampak negatifnya.

Dampak positifnya, pasar Amerika yang ditinggalkan China dan pasar China yang ditinggalkan Amerika dapat diisi oleh produk-produk Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan catatan bahwa kenaikan tarif tersebut tidak diberlakukan terhadap produk-produk Indonesia. Produktivitas, daya saing, serta "supply chain" produk-produk Indonesia juga harus ditingkatkan. Selain itu, ketergantungan pada bahan baku impor, khususnya dari China dan Amerika harus dikurangi. Jika kesemua itu terpenuhi, dalam kondisi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang meninggi, maka perang dagang merupakan berkah ekspor untuk Indonesia. Jika sebaliknya, maka peningkatan ekspor sekaligus meningkatkan impor.

Dampak negatifnya, produk-produk China akan semakin membanjiri pasar Indonesia, sehingga neraca perdagangan Indonesia-China semakin defisit untuk Indonesia. Demikian juga impor barang-barang Amerika di Indonesia akan semakin besar pula, sehingga neraca perdagangan Indonesia-Amerika semakin terancam defisit bagi Indonesia.

Keadaan akan lebih memburuk jika Donald Trump bukan hanya menggunakan instrumen tarif, tapi juga non-tarif. Donald Trump bisa saja menggunakan S. 301 Undang-undang Perdagangan Amerika yang memberikan hak prerogatif kepada Presiden Amerika untuk melakukan tindakan terhadap mitra-mitra dagangnya yang dianggap merugikan kepentingan Amerika. Dengan dalih melanggar hak-hak kekayaan intelektual Amerika, produk-produk impor dari Indonesia preferensinya dicabut atau bahkan diblokir, sehingga tidak bisa masuk Indonesia.

Jika perang dagang mengalami eskalasi, bukan hal yang mustahil jika Amerika menggunakan instrumen proteksionis berupa Sanitary and Phitosanitary Measures (SPS) dan Technical Barrier to Trade (TBT) secara ketat. Sangat menyulitkan.

Apa yang harus dilakukan oleh Indonesia, pertama industri substitusi impor harus ditingkatkan dengan memotong ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kedua, pasar-pasar alternatif harus dibuka. Ketiga, pendekatan hukum harus diambil ketika China dan Amerika melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum World Trade Organization (WTO). Hanya melalui instrumen hukum, negara-negara anggota WTO, terlebih negara-negara berkembang seperti Indonesia, dapat melindungi dirinya.(pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Massa Ke MK, Untuk Apa?

0 OPINI | 13 June 2019

Bangsa Xenophobia

13 June 2019

Bahasa Daerah, Merana Nasibmu

2 OPINI | 14 June 2019

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan             Investor Tak Hanya Andalkan Peringkat Daya Siang