BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Ketua Pusat Ekonomi dan Bisnis Islami, FEB UI
Menyiasati Pola Pergeseran Konsumsi Masyarakat

Menurut saya yang terjadi selama ini sebenarnya bukan penurunan daya beli, tapi pergeseran gaya konsumsi atau pola konsumsi, dan pergeseran gaya produksi. Memang betul dari data penjualan di ritel besar menurun drastis.

Tetapi harus diingat, peritel lain seperti Alfamart, Indomaret, dan usaha sejenis--yang umumnya berada di tengah permukiman penduduk, malah naik drastis. Juga produk-produk dari Mitra Adi Perkasa (MAP) Group, semisal Starbucks, Mark & Spencers, Planet Sports, itu juga naik drastis selama semester I/2017. Pada semester I/2016 lalu penjualan grup usaha itu mencapai Rp6,6 triliun. Pada periode yang sama sekarang Rp7,7 triliun, itu naik sekitar 17 persen.  

Alfamart pada semester I/2016 membukukan penjualan Rp26,8 triliun, pada periode yang sama tahun ini berhasil menjual Rp30,5 triliun, atau kenaikan hampir 14 persen. Alfamidi pada semester I/2016 berhasil menjual Rp4 triliun, dan pada semester I/2017 menjual Rp4,8 triliun, atau naik 20 persen. Juga Indomaret.

Dari sektor hiburan seperti cinema, penjualan mencapai Rp275 miliar di tengah periode tahun lalu, sekarang menjadi Rp381 miliar. Itu kenaikan yang mengherankan.

Memang toko-toko Glodok sepi pengunjung, tetapi di pihak lain naik drastis. Ace Hardware mendapat Rp2,3 triliun pada tengah semester tahun lalu, menjadi  Rp2,7 triliun di tahun ini.

Bisnis hotel pun demikian. Agung Podomoro Group/Pullman dari tahun lalu Rp307 miliar, sekarang Rp324 miliar. Di bisnis seluler, Okeshop tutup, tapi Eraphone naik dari Rp10,3 triliun menjadi Rp11 triliun tengah tahun ini.

Jadi kalau disebut data makro naik, itu betul, tetapi mikro jika dikatakan ada penurunan daya beli itu tidak sepenuhnya tepat. Karena ada data-data di lapangan yang saya sebut diatas.

Orang sekarang lebih senang belanja di minimarket yang ada disekitar rumahnya. Ini mungkin yang menyebabkan peritel besar seperti Giant atau Hypermart mengamami penurunan omset penjualan.

Jika dikatakan pergeseran gaya konsumsi itu terjadi di kalangan menengah atas Indonesia, itu memang kenyataan, akibat munculnya kelas menengah baru ini. Dan itu adalah konsekuensi logis dari model pembangunan yang kita anut sekarang. Jika ada pertumbuhan ekonomi makin tinggi, maka akan ada kesenjangan yang semakin besar. Tetapi dengan makin tingginya tingkat pendapatan, nanti kepincangan akan turun kembali. Jadi seperti teorinya Simon Kuznets, perkembangannya seperti itu. Dalam ekonomi disebut market system dan dalam terminologi politik disebut capitalist system.

Jadi syukur-syukur jika ada program pemerintah yang memikirkan kaum lemah, sehingga tingkat kepincangan dapat ditekan.

Juga ada antispasi terhadap layoff di sektor ritel besar. Itu butuh antisipasi juga. Akibat pergeseran gaya produksi dari mass product ke online.  Demikian pula di sektor riil, meski pengaruhnya masih belum seberapa, tapi pengaruh perkembangan teknologi dan teknologi informasi mau tidak mau akan memunculkan masalah serupa. Capital intensive akan makin banyak dilakukan daripada labour intensive.

Semua di dunia ini akan terpengaruh pergeseran pola konsumsi dan pola produksi ini. Juga perbankan. Pemerintah perlu menyiapkan adjustment untuk menyikapi perkembangan seperti ini. (pso)

 

 

 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional