BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta Paramita Jaya, Kepala Museum Bank Indonesia
Menggabungkan Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Menurut saya, ada empat hal yang harus dijalankan oleh museum untuk menarik lebih banyak pengunjung. Pertama, museum harus punya program jelajah museum yang bisa dinikmati oleh khalayak luas. Kedua, harus ada forum diskusi yang diadakan dengan para pengunjung selepas berkeliling museum untuk lebih mendalami atau berdiskusi mengenai koleksi museum.

Ketiga, museum harus punya ruangan atau tempat temporer yang bisa dipakai untuk melangsungkan pameran  foto atau lukisan, dijadikan galeri budaya. Atau bisa juga menyuguhkan tarian maupun atraksi budaya lainnnya termasuk kuliner khas daerah. Dengan demikian, museum memiliki lebih banyak daya tarik sehingga pengunjung akan senang karena mendapatkan pengalaman baru.

Terakhir, koleksi museum harus interaktif dan tidak bersifat satu arah atau mati. Ini bisa dilakukan dengan cara penggunaan layar sentuh atau alat berteknologi canggih lainnya yang bisa memberikan informasi secara interaktif dan menarik kepada para pengunjung.

Koleksi  boleh kuno, tetapi dikemas secara modern. Misalnya pada koleksi diberikan semacam barcodeyang jika dipindai oleh gawai pengunjung, maka akan timbul suara atau gambar yang menjelaskan koleksi tersebut.

Memang semua itu ujung-ujungnya akan kembali ke dana dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi pengelola museum. Maka itu  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, maupun instansi terkait lainnya seharusnya membantu museum-museum terutama museum yang kesulitan dana.

Di sisi lain, kita tidak bisa memungkiri bahwa generasi milenial gemar akan hal-hal yang berbau kekinian, seperti mall, gawai, maupun foto-foto yang instagrammable. Makanya kita harus bisa menyelami pola pikir mereka, menciptakan cara yang tanpa mereka sadari membuat mereka senang berkunjung ke museum. Caranya adalah dengan membuat area foto, koleksi museum, maupun ruang tata pamer yang instagrammable.

Selain itu, generasi milenial terutama yang masih berstatus pelajar maupun mahasiswa, sebaiknya diwajibkan berkunjung ke museum agar mereka lebih mengenal museum dan sejarah. Menurut saya, jika mereka mengunjungi museum untuk belajar sejarah setiap, katakanlah, satu sampai dua minggu sekali, dampaknya akan luar biasa. Namun tentunya materi sejarah yang sedang mereka pelajari disesuaikan dengan genre museum yang akan dikunjungi—seperti museum sejarah, museum sastra, keuangan, dan seterusnya.

Kalaupun tidak bisa setiap minggu, sekolah bisa berkunjung ke museum misalnya minimal sebulan sekali, mengingat kegiatan studi eksternal seperti itu membutuhkan biaya.

Lalu, terkait apakah masyarakat seolah tidak peduli dengan sejarah mengingat minimnya minat mereka terhadap museum, menurut saya itu semua berpulang pada konsep pengelolaan museum. Museum harus dikemas sedemikian rupa, semenarik mungkin, supaya orang beramai-ramai datang.

Oleh karena itu saya selalu mengadakan pertemuan bulanan dengan museum-museum lain se-DKI Jakarta untuk transfer knowledge mengenai ilmu konservator, ilmu kurator, ilmu pemanduan, dan sebagainya. Kita saling berbagi supaya tiap pengelola  museum memahami apa saja yang harus dikemas dengan lebih baik lagi ke depannya.

Saya bahkan mengundang sejumlah narasumber untuk memberikan materi supaya rekan-rekan lain bisa belajar lebih banyak. Itu semua merupakan upaya penguatan internal museum.

Menurut saya, museum yang mempunyai standard operating procedure (SOP) jelas, dana mencukupi, tersedia tenaga kurator, konservator, pemandu yang lengkap, ditambah fasilitas interaktif dan modern yang tadi saya jelaskan, barulah museum akan ramai pengunjung. Mereka pun akan senang. Maka itu kesiapan pengelola museum benar-benar dituntut supaya semua itu terpenuhi.

Di samping itu, ada anggapan bahwa lokasi museum dapat memengaruhi volume kunjungan—museum yang terletak di lokasi yang strategis dan ramai turis cenderung menyedot lebih banyak pengunjung dibanding museum lain yang berlokasi kurang atau tidak strategis. Bagi saya, faktor lokasi memang berdampak sangat besar.

Ada tiga faktor yang dapat berpengaruh terhadap tinggi-rendahnya volume pengunjung museum yang saya sebut sebagai 3A. A yang pertama yaitu aksesibilitas. Pengunjung cenderung datang ke museum yang lokasinya mudah dijangkau oleh moda transportasi umum maupun kendaraan pribadi.

A yang kedua adalah amenitas atau sarana, seperti toko suvenir atau hostel nyaman yang tersedia di sekitar museum seperti di kawasan Kota Tua untuk menunjang kunjungan para wisatawan. A yang ketiga yakni atraksi, seperti yang tadi saya jelaskan di awal.

Namun, tak bisa disangkal, faktor aksesibilitas berpengaruh luar biasa terhadap museum.

Pun kita harus ingat bahwa museum itu tidak stagnan, tetapi dinamis. Meski museum memang sarat dengan koleksi masa lalu, namun sebetulnya semua itu masih berkaitan dengan hari ini dan hari esok.

Misalnya, di Museum Bank Indonesia, ditampilkan koleksi uang masa lalu dan uang masa kini beserta keterangan ciri-cirinya. Sejarahnya Bank Indonesia, peristiwa krisis moneter pada 1998 silam, maupun perisitwa besar lainnya dan apa efeknya terhadap perekonomian sekarang pun turut dihadirkan di sini. Dengan begitu, pengunjung akan mendapat pemahaman sejarah yang komprehensif.

Intinya, museum itu tidak bisa sekedar memamerkan koleksi kekunoannya tapi museum harus ada unsur kekiniannya. Dengan kata lain, bagaimana menggabungkan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. (sfc)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional