BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI
Mengejar Target Pertumbuhan

Saya melihat perencanaan anggaran pemerintah sudah semakin baik, hal ini dapat kita tengok melalui perbaikan penyerapan anggaran pada kuartal pertama tahun 2018. Meski membaik, tetapi saya kira elastisitasnya terhadap pertumbuhan konsumsi masyarakat, yang mana merupakan komponen utama dari pertumbuhan ekonomi, masih sangat terbatas. Ada beberapa sebab, yang pertama adalah pada kuartal pertama belanja negara masih didominasi oleh pengeluaran rutin dan operasional di mana daya dukungnya terhadap ekonomi cukup terbatas. 

Yang kedua, secara umum masih terdapat gejala Ricardian equivalence sehingga efektivitasnya pun semakin minimal. Untuk Indonesia setidaknya gejala awal dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsi yang justru merupakan salah satu yang paling rendah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir meskipun utang tumbuh lumayan signifikan. Kenapa? Karena dalam konteks Ricardian equivalence, masyarakat semakin rasional dalam memperhitungkan faktor intertemporal. Mereka yakin bahwa defisit atau utang di masa sekarang akan dikompensasikan dengan kenaikan pajak di masa depan, sehingga masyarakat, terutama di lapisan 20 persen terkaya, memilih untuk menahan konsumsinya yang tercermin dalam peningkatan aktiftas dana pihak ketiga di perbankan. Melihat fakta ini, saya agak pesimis bahwa pencapaian tax ratio bisa membaik ditahun-tahun ke depan, kecuali ada reformasi yang menyeluruh di sektor perpajakan.

Sementara itu, bagaimana pengaruh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin?  Menengok tren selama beberapa tahun terakhir, elastisitas suku bunga acuan Bank Indonesia terhadap nilai tukar tampaknya juga masih sangat minimal. Sehingga bisa saya katakan bahwa dampaknya ke depan juga akan terbatas. Justru di jangka panjang hal ini akan meningkatkan cost of financing yang mana akan menjadi rintangan bagi pertumbuhan bisnis, dan menjatuhkan  fundamental bursa.
 
Lebih lanjut, jika melihat postur ekonomi, peran konsumsi domestik terhitung paling besar (55 persen dari produk domestik bruto) dan paling adaptif di jangka pendek. Intervensi pada variabel ini bisa menjadi solusi paling pragmatis di jangka pendek. Celakanya, upaya Bank Indonesia untuk mengetatkan kebijakan bisa berujung pada terhambatnya konsumsi domestik dus pelambatan pertumbuhan ekonomi.

Jika menengok kinerjanya, meskipun ada dorongan kuat ke arah peningkatan konsumsi, data fast mover consumer goods (fmcg) justru tumbuh lekat tanah (2.7 persen YTD), jauh di bawah rerata tahunan (11 persen). Hal ini seakan menyiratkan adanya permasalahan dalam kualitas permintaan domestik. 

Jika ditelisik lebih lanjut, hal ini disebabkan adanya tekanan pada daya beli di kelas menengah di mana secara rata-rata terdapat penurunan dari take home pay (lembur dan pendapatan tambahan berkurang) sementara di saat yang bersamaan terdapat peningkatan dari kebutuhan hidup (biaya pendidikan anak, listrik dan gas). Sementara itu di kalangan elite, kecenderungannya lebih pada wait and see, sehingga pola konsumsi mereka cenderung tertahan di jangka pendek. 

Melihat fakta ini, pola konsumsi kelas elite bisa jadi berubah secara linear dengan kenaikan konsumsi kelas menengah. Efek ini sudah selayaknya menjadi dasar pertimbangan kelas ini untuk lebih positif melihat perekonomian nasional, dan berimbas pada peningkatan aktifitas konsumsi mereka setidaknya di  jangka menengah. Namun, tren ini bisa saja berbalik jika dijangka panjang tren deindustrialisasi masih terjadi secara persisten, alih-alih industrialisasi. Kuncinya, pemerintah harus bisa menentukan prioritas!

Nah bagaimana pilpres di tahun 2019 bisa mem-boosting konsumsi di jangka pendek? Tentu kita tidak bisa berharap pada kelompok elite mengingat elastisitas/sensitivitas aktifitas konsumsi mereka cenderung kaku di jangka pendek. Dengan demikian, yang kita harapkan adalah adanya respon yang fleksibel dari konsumsi dari kelas menengah.  Secara umum, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki arah yang positif namun jika dilihat secara komparatif regional, perekonomian Indonesia tampaknya akan terus tumbuh sub optimal. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir