BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Mengantisipasi Inflasi Ramadhan

Inflasi Ramadhan merupakan frasa yang menggambarkan adanya fenomena berulang terjadinya inflasi di sekitar bulan Ramadhan. Artinya, di sekitar bulan Ramadhan selalu terjadi kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum di Indonesia dengan tingkat yang bervariasi setiap tahun. Fenomena ini umum terjadi di negara dengan jumlah penduduk Muslim yang besar, terlebih Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dengan total pemeluk agama Islam lebih dari 200 juta orang.

Sebaliknya, apabila Kementerian Perdagangan memastikan bahwa harga-harga barang dan jasa di sekitar bulan Ramadhan tidak naik, justru hal tersebut akan merusak pasar. Pasar yang rusak akan dapat merugikan, baik bagi produsen maupun konsumen. Padahal, kebijakan yang perlu dikeluarkan oleh pemerintah beserta otoritas terkait lainnya adalah cukup memastikan ketersediaan pasokan melalui manajemen stok yang baik serta terus memantau perkembangan harga secara rutin dan berkala. Dengan demikian, harga-harga akan naik secara terkendali dan sesuai dengan target inflasi yang telah ditetapkan.

Namun kenyataannya, pemerintah tampak abai untuk urusan manajemen stok dalam menghadapi efek musiman seperti waktu Ramadhan dan masa lebaran. Terlebih, dengan semakin melemahnya rupiah sejak awal tahun membuat harga barang-barang impor semakin mahal dan cenderung meningkatkan harga barang dan jasa beberapa kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan lebaran. Akibatnya, harga semakin tidak terjangkau oleh masyarakat, konsumsi masyarakat tertahan, dan menekan angka pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 5,4 persen pada tahun ini. Artinya, kebijakan pengendalian harga, khususnya dalam menghadapi Ramadhan, seharusnya sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, termasuk mengantisipasi pelemahan rupiah yang kecenderungannya sudah ada sejak awal tahun 2018.

Saat ini nasi telah menjadi bubur. Ramadhan sedang kita jalani dan lebaran tinggal sebentar lagi. Pencabutan ketentuan yang mengizinkan perusahaan besar untuk ikut menyuplai daging ayam ke pasaran yang sebelumnya melarang perusahaan besar memasok daging ayam ke pasar tradisional harus dipantau agar tidak berlangsung seterusnya. Kebijakan jalan pintas seperti itu hanya berlaku untuk kondisi mendesak seperti sekarang ini. Ke depan, keadaan seperti ini harus diantisipasi sejak jauh hari sehingga selama Ramadhan, khususnya sekitar waktu lebaran, pemerintah tinggal memantau pergerakan harga dan tidak perlu mengambil kebijakan jalan pintas lagi.

Antisipasi yang dapat dilakukan, selain manajemen stok yang baik, adalah memberantas mafia perdagangan atau rente ekonomi yang menggerogoti rantai pasok. Selain itu, kebijakan sinergi antar daerah patut didorong sehingga dapat saling membantu sama lain. Misalnya, daerah dengan pasokan beras yang berlimpah dapat mengirimkan pasokannya ke daerah lainnya yang membutuhkan dan diperdagangkan dengan komoditas unggulan dari daerah lainnya tersebut. (pso)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan