BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti di Institute For Development and Economics and Finance (INDEF)
Menelisik Akar Ketimpangan Ekonomi

Salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah ketimpangan ekonomi yang semakin tinggi, utamanya sejak reformasi bergulir di Indonesia tahun 1998. Gini rasio pada tahun 1998 masih berada pada level 0,31. Namun saat ini sudah berada pada level 0,394. Kebijakan mengurai ketimpangan ekonomi harus menyasar akar permasalahan dari ketimpangan ekonomi itu sendiri.

Dari kacamata ekonomi, ketimpangan terjadi karena adanya perbedaan produktivitas antara satu orang dengan orang lainnya. Produktivitas disebabkan oleh aset yang dimiliki, baik aset fisik, aset uang (financial capital), maupun aset manusia (human capital).  Orang yang memiliki keterbatasan dalam aset-aset tersebut cenderung memiliki produktivitas yang rendah dibanding lainnya. Hubungan dari masing-masing aset terhadap ketimpangan adalah sebagai berikut.

Ketimpangan dalam penguasaan aset pertama adalah aset fisik, salah satunya adalah tanah. Saat ini, gini rasio lahan sebesar 0,68, atau lebih tinggi dari gini ratio pengeluaran. Gini rasio lahan akan membuat produktivitas, khususnya petani, akan rendah. Saat ini, rata-rata penguasaan lahan oleh petani hanya 0,8 hektare. Padahal, untuk bisa sejahtera perlu minimal 2 hektare. Makanya tidak mengherankan jika rata-rata penghasilan petani di Indonesia (menurut sensus pertanian 2013) cuma Rp12,8 juta setahun.

Ketimpangan aset berikutnya adalah ketimpangan dalam mengakses aset uang (financial capital). Saat ini masyarakat miskin khususnya UMKM mengalami kesulitan untuk mendapatkan pembiayaan dari lembaga formal karena dianggap lebih high risk dibandingkan perusahaan besar. Para pelaku UMKM kemudian mencari pembiayaan dari lembaga informal (tengkulak) yang bunganya tinggi. Pada akhirnya biaya meminjam para UMKM menjadi besar dan usahanya menjadi tidak efisien. Pengusaha yang besar akan semakin besar usahanya karena mendapatkan pembiayaan yang murah dan mudah, sedangkan UMKM akan semakin sulit bersaing karena pembiayaannya mahal dan susah.

Ketiga adalah ketimpangan dalam aset manusia (human capital). Ada ketimpangan dalam akses pendidikan maupun kesehatan antara orang kaya dan orang miskin. Berdasarkan data sensus ekonomi yang dikeluarkan oleh BPS menunjukkan bahwa orang yang punya penghasilan rendah cenderung akan putus sekolah. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain adalah fasilitas pendidikan tidak ada di dekat rumahnya dan karena harus kerja untuk membantu penghasilan keluarga. Kondisi ini membuat orang kaya akan semakin pintar dan semakin produktif, sedangkan orang miskin akan semakin tertinggal. Kondisi yang sama juga terjadi di akses kesehatan dimana orang kaya lebih memiliki akses untuk mendapatkan fasilitas kesehatan sehingga orang kaya tetap sehat, sedangkan orang miskin akan gampang sakit dan pada akhirnya produktivitasnya lebih rendah.

Oleh sebab itu, kebijakan afirmatif harus difokuskan untuk menyelesaikan masalah keterbatasan aset di atas. Untuk masalah aset lahan, solusinya adalah reforma agraria yang disertai oleh reforma akses petani terhadap sejumlah faktor produksi.

Sedangkan untuk menyelesaikan masalah aset modal, perlu kebijakan afirmatif di sektor pembiayaan untuk UMKM. Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga tidak cukup dan bahkan perlu dievaluasi karena pada praktiknya tidak efektif. Terakhir, aset manusia, kebijakan afirmatifnya adalah meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan ke masyarakat miskin. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF