BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM
Mencermati Pengangguran dan Kreasi Generasi Milenial

Mencermati isu pengangguran yang sudah seperti lagu lama dari satu pemerintahan ke pemerintahan lainnya sejak Indonesia merdeka, maka di era keterbukaan informasi zaman now, tidak dapat lagi dielakkan keharusan transparansi pemerintah dalam mengumpulkan, mengolah, mempublikasi, serta menggunakan data pengangguran tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. BPS telah diminta Presiden Jokowi saat pencanangan Sensus Ekonomi 2016, menjadi sumber data tunggal untuk berbagai kebijakan pemerintah.

Tantangan berikutnya, bagaimana BPS menerapkan transparansi tersebut karena semua jajaran pemerintah menjadikan BPS sebagai rujukan data untuk berbagai penetapan kebijakan di sektor masing-masing. Pemerintah tidak perlu lagi melakukan manipulasi data pengangguran untuk kepentingan tertentu karena masyarakat semakin pandai dan tidak mudah diperdaya dengan data pemerintah jika too good to be true. Masyarakat dapat melakukan check and recheck terhadap data pemerintah dengan data dari berbagai sumber.

Memang menjadi PR pemerintah menjelaskan kesenjangan data pertumbuhan ekonomi yang tersaji hingga 5 persen, sedangkan di tingkat ekonomi mikro banyak keluhan kelesuan berbisnis ditambah penutupan gerai-gerai ritel. Selain ditengarai adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia di era digital, banyak pakar ekonomi mencoba menjelaskan karena sebab lain. Salah satunya argumen Menkeu Sri Mulyani Indrawati yang berpendapat terjadi konsumsi yang ditahan karena uang masyarakat disimpan dalam instrumen keuangan sehingga kegiatan ekonomi mikro melemah. Pertumbuhan ekonomi jika tidak mengandalkan konsumsi maka tinggal berpaling pada investasi, belanja pemerintah, dan selisih ekspor impor. Saat ini mungkin belanja pemerintah di sektor infrastruktur yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena kinerja ekspor masih tidak stabil serta tingkat investasi juga tidak spektakuler.

Strategi menghadapi isu ketenagakerjaan perlu ada perubahan paradigma, terkhusus di era digital zaman now. Pengertian bekerja sudah saatnya berubah, tidak melulu memperoleh penghasilan bulanan atas pekerjaan yang relatif rutin dikerjakan dari hari ke hari kemudian masuk kantor dengan jam kerja reguler dari pagi ke sore. Kemajuan teknologi informasi telah mewarnai perubahan pemahaman tentang bekerja. Banyak lapangan kerja lahir dari kemajuan teknologi informasi meski tidak sedikit juga jenis pekerjaan yang hilang. Namun demikian daya kreasi teknologi informasi yang berkolaborasi dengan berbagai aspek kehidupan diyakini masih cukup besar melahirkan berbagai peluang pekerjaan, khususnya kewirausahaan. Dalam strategi jangka panjang penyiapan sumberdaya manusia Indonesia harus ditekankan sebagai job creator, bukan job seeker.

Sektor jasa sebagai sektor ketiga terbesar menyerap angkatan kerja per Agustus 2017 menurut BPS yaitu 20,48 juta orang atau 16,92 persen akan menjadi andalan bidang kerja generasi langgas (generasi milenial) Indonesia.

Industri yang terkait jasa adalah industri pariwisata dengan segala turunannya, berbasis sumberdaya alam maupun buatan lewat pengelolaan oleh sumberdaya manusia yang berorientasi melayani akan menjadi potensi penyerap angkatan kerja di Indonesia. Hal ini dapat dikonfirmasi dari data TPT yang dirilis BPS pada 6 November 2017, ternyata region yang terkenal dengan pariwisata seperti Bali dan Yogyakarta mencatat persentase TPT paling rendah yaitu 1,48 persen dan 3.02 persen.

Pengangguran di Indonesia akan berbeda di era digital dibanding satu atau dua dekade lampau. Menjadi pertanyaan besar apakah kita masih saja berkutat pada isu-isu lama pengangguran dengan latar lingkungan digital dan kedatangan generasi langgas yang karakteristiknya jauh berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya? (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional