BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Mencermati Pelemahan Rupiah: How Low Can We Go?

Penguatan dolar AS terhadap rupiah masih terus berlanjut. Kemarin bahkan dolar AS berhasil menembus benteng pertahanan BI di level Rp15.000 per dolar AS sekaligus mendorong BI mundur dan berjaga di benteng atau batas psikologis baru yang saya perkirakan ada di level Rp15.500 per dolar AS.

Kenapa saya sebutkan benteng atau batas psikologis baru? Karena sesungguhnya level-level psikologis ini sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak ada juga penjelasan ilmiah bagaimana terbentuknya.

Level psikologis bukan level yang mencerminkan kondisi fundamental, bukan juga level keseimbangan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai benteng yang ditargetkan untuk dijaga jangan sampai bisa direbut musuh yang dalam hal ini adalah dolar AS. Dolar AS jangan sampai melewati Rp15.000 per dolar AS.

Dengan cara berpikir seperti ini kita jadi tidak perlu terlalu khawatir. Ingat dulu bagaimana saat awal pelemahan rupiah kita punya level psikologis Rp14.000 per dolar AS. Seperti permainan, BI berusaha agar dolar AS tidak melewati benteng pertahanan di level Rp14.000. Ketika level Rp14.000 per dolar AS terlewati yang artinya benteng pertahanan dapat direbut musuh dan BI harus bergerak mundur ke benteng berikutnya yaitu di level Rp14.500 per dolar AS. Ketika benteng ini terlewati juga, BI kembali terdesak mundur ke benteng Rp15.000 per dolar AS. Terakhir, kejadiannya baru kemarin, benteng Ro15.000 inipun sudah direbut musuh.

Yang harus dilakukan oleh BI adalah mundur dan mempertahankan benteng berikutnya di level Rp15.500 per dolar AS. Apakah tidak mungkin BI tidak hanya bertahan tapi juga menyerang untuk merebut kembali benteng Rp15.000 per dolar AS? Sangat mungkin apabila kondisinya memungkinkan.

Uraian ini perlu saya sampaikan di awal untuk memberikan pemahaman bahwa level psikologis itu sesungguhnya hanyalah angka target untuk dipertahankan. Angka-angka ini tidak bisa digunakan untuk mengartikulasikan besarnya pelemahan rupiah dan dampaknya terhadap perekonomian. Ambil contoh saja, rupiah melemah melewati level psikologis Rp14 ribu per dolar AS di sekitar bulan April. Kemudian tidak berarti perekonomian kita lalu langsung tidak berdaya. Demikian juga ketika kemudian rupiah menembus  Rp14.500 per dolar AS. Ekonomi kita juga masih bisa berjalan normal. Inflasi y.o.y bahkan bergerak stabil di kisaran 3 persen. Saya meyakini kondisi yang sama setelah rupiah menembus level Rp15.000. Ekonomi kita masih akan baik-baik saja.

Lalu apakah memang tidak akan ada dampak terhadap perekonomian? Ya tentu saja ada dampaknya. Dampaknya ada yang positif dan ada pula yang negatif. Bagi sebagian besar saudara kita khususnya para petani komoditas di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, pelemahan rupiah saat ini lebih menguntungkan. Kenaikan harga komoditas yang diiringi oleh pelemahan rupiah berarti kenaikan pendapatan. Demikian juga dengan pengusaha/eksportir misalnya di bidang pertambangan. Pelemahan rupiah membuat pundi-pundi pendapatan mereka bertambah besar. 

Di sisi lain bagi banyak importir atau pengusaha yang membutuhkan barang impor untuk bahan baku tentu pelemahan rupiah  menyebabkan kenaikan biaya. Tapi mereka masih punya pilihan mentransfer kenaikan harga itu ke harga barang atau menurunkan tingkat keuntungan. Intinya, selama pelemahan rupiah berlangsung gradual dan bisa diprediksi pengusaha masih akan dapat survive dengan melakukan perencanaan yang matang, apakah akan mentransfer beban ke pembeli atau ditanggung sendiri.

Yang tidak punya pilihan atas pelemahan rupiah adalah rumah tangga. Mereka yang akan menerima dampak dari pelemahan rupiah, mulai dari yang skalanya rendah yaitu kenaikan harga barang-barang pokok sampai ke skala tinggi misal penurunan income karena terkena PHK dimana perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut akibat melemahnya rupiah. 

Saat ini jangankan dampak skala tinggi yang skala rendah saja belum begitu terasa. Terlihat di angka inflasi yang masih sangat rendah. Sampai level berapa masyarakat akan mulai merasakan dampak negatif pelemahan rupiah? Selama pelemahan rupiah terjadi secara gradual dan terukur, para pengusaha masih akan survive, dan selama pengusaha masih survive, dampak negatif terhadap masyarakat akan terkendali. Ini yang menjadi tugas Bank Indonesia dan pemerintah. 

Satu hal yang menurut saya sangat perlu ditanamkan kepada masyarakat bahwa pelemahan rupiah ini masih akan berlangsung cukup lama. Artinya kita semua harus siap satu saat nanti rupiah bisa jadi melemah menembus Rp15.500 per dolar AS. Tapi kita harapkan itu tidak terjadi segera, melainkan secara gradual dan kita semua bisa mempersiapkan diri. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan