BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Mencegah 'Barjibarbeh'

Pidato Game of Thrones sangat tepat menyimpulkan situasi rimba persilatan geopolitik pasca perang tarif AS Eropa Tiongkok. Jadi Indonesia seperti Batara Kresna mengingatkan kalau mau perang Bharata Yudha itu bisa barjibarbeh. Jadi memang misi Jokowi 2018 lain dari Kresna zaman Pandawa dulu. Dulu jadi Dubes penengah, gagal karena memang ditakdirkan dunia harus habis baik Kurawa maupun Pandawa. Meski menang Pandawa tidak akan menikmatinya. 

Sekarang ini sebetulnya semua negara yang bertikai harus insaf bahwa mereka itu ibarat kembar siam, saling terkait satu sama lain. Sakit satu sakit yang lain, mati satu yang lain juga mati. Nah dalam semangat itulah dianjurkan supaya berdamai saja. Setelah Perang Dunia II sebetulnya selain Bank Dunia dan IMF  akan dibentuk pula ITO (International Trade Organization). Tapi ITO gagal terbentuk maka hanya dipakai istilah ad hoc GATT (General Agreements on Tariff and Trade) pada 1947. Perlu waktu 47 tahun sampai berubah jadi WTO.  Semestinya 3 badan itu menjadi segitiga Trinitas pengawal pembangunan ekonomi global. Sekarang masalahnya seolah terpisah tidak terkoordinasi. Kemarin sidang WB-IMF menyerukan negara manapun agar menahan diri untuk tidak mengeskalasi perang dagang ke perang valas (currency war).

Ya, Indonesia berkepentingan menjaga pikiran sehat, hati nurani dan kemanusiaaan untuk mencegah eskalasi perang dagang jadi perang total, yang akan memporak-porandakan seluruh dunia. Pesan ini sangat dirasakan oleh dunia. Semoga Trump dan Xi Jinping serta pendekar-pendekar persilatan lain ikut insaf bahayanya perang betulan. Semoga seruan Bali tentang bahaya Winter is coming, barjibarbeh ini didengar secara konkret dan praktis. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung