BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-2)

Penyebab kedua, kerentanan rupiah adalah struktur modal asing yang masuk lebih didominasi oleh portofolio. Investasi langsung (PMA) cenderung stagnan, sementara investasi portofolio terus meningkat, sebagaimana terlihat di kepemilikan asing pasar modal dan pasar SBN.

Dominasi asing di pasar modal dan pasar SBN adalah sumber utama kerentanan. Saat terjadi shock eksternal, investor asing menarik investasinya menyebabkan kejatuhan harga-harga saham dan SBN sekaligus memicu depresiasi rupiah. Fenomena dampak sudden reversal terhadap rupiah sudah berulang kali kita alami.

Darmin Nasution saat menjabat Gubernur Bank Indonesia sempat menyebutkan investasi asing dalam bentuk portofolio adalah para tamu yang tak diundang. Investasi portofolio merupakan hot money yang lebih banyak mudaratnya dibandingkan manfaat. Tapi ironisnya sekali lagi, tidak pernah ada upaya untuk membatasi investasi portofolio asing. Di saat pasar modal dan pasar uang mengalami bullish otoritas baik BI maupun Kemenkeu seakan ragu menerapkan capital flows manajemen yang sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak negatif hot money. Ketika kondisi berbalik bearish, BI dan Kemenkeu semakin tidak punya keberanian melakukan Capital Flows Management. Sehingga pada akhirnya kita seperti keledai yang berulang kali terperosok di lubang yang sama.

Alternatif solusinya adalah:

Kenaikan suku bunga acuan jelas bukan satu-satunya solusi menghadapi pelemahan rupiah. Bahkan kita bisa melihat bagaimana kenaikan suku bunga acuan yang begitu tinggi di Argentina dan juga Turki pada tahun ini tidak efektif meredam pelemahan mata uang Peso dan Lira. Kita juga pernah mengalami bahwa kenaikan suku bunga acuan hingga diatas 50 persen pada tahun 1998 justru mendorong perekonomian kita ke jurang krisis yang lebih dalam.

Kunci mengatasi pelemahan rupiah ada di kepercayaan pasar. Semakin mampu kita membangun kepercayaan pasar semakin kuat dampaknya terhadap penguatan rupiah. Lalu bagaimana kita membangun kepercayaan pasar? Sederhana! Fokus kepada semua sumber-sumber kerentanan rupiah seperti saya uraikan diatas. Fokus mengatasi pertumbuhan impor yang melebihi ekspor. Fokus kepada upaya mengurangi defisit perdagangan jasar dan defisit neraca pendapatan primer. Memang ini bukan solusi jangka pendek. Tapi harus ada upaya yang konkrit yang ditujukan untuk ini dan dikomunikasikan kepada pasar. Agar pelaku pasar punya gambaran jangka panjang bahwa ke depan rupiah akan lebih kuat didukung oleh transaksi berjalan yang surplus dan berkesinambungan.

Membangun kepercayaan pasar bukan dengan menawarkan insentif suku bunga yang tinggi. Melainkan  dengan gambaran utuh bahwa perekonomian Indonesia kedepan akan ditopang oleh struktur modal asing yang berkesinambungan. Perekonomian Indonesia memiliki semua potensi yang diidamkan oleh para investor. Manfaatkan itu. Lakukan capital flows management secara terukur agar investasi asing yang masuk lebih banyak dalam bentuk investasi langsung. Jangan ragu untuk membatasi gerak para trader yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Investasi portofolio harus lebih didominasi oleh real investor, bukan para pemburu rente. Sekali lagi,  ini artinya jangan naikkan suku bunga. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kegalauan Anies, Lahirkan Kebijakan Itu             Bukan Sekadar Buat Aturan, Tapi Bangkitkan Rasa Kepedulian              Tidak Ada Alasan Mengabaikan Putusan MK             Keputusan KPU Mengembalikan DPD Khittahnya             Awasi Distribus Beras dengan Benar!             Koordinasi dan Komunikasi Menko Perekonomian Buruk              Bersaing dulu di ASEAN             Harus Ada Transformasi Struktural Industri              Tingkatkan Daya Saing Produk Kita             Perlindungan Anak Harus Libatkan Pengurus RT dan RW