BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-1)

Bank Indonesia pada tahun ini untuk kesekian kalinya menaikkan suku bunga sebagai respon terhadap pelemahan rupiah hingga menembus Rp14.600 per dolar AS. Ada berbagai faktor yang mendorong pelemahan rupiah sepanjang 2018. Mulai dari kenaikan suku bunga acuan the Fed pada bulan Maret dan Juni, memburuknya neraca perdagangan pada Mei lalu, hingga melebarnya defisit transaksi berjalan pada kuartal ketiga 2018, dibarengi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu krisis Turki serta perang dagang AS dan China. Setiap kali ada tekanan terhadap rupiah, BI hampir selalu merespon dengan menaikkan suku bunga. Apakah ini adalah respon yang tepat?

Saya melihat BI seperti melupakan bahwa penyebab pelemahan rupiah bergitu beragam, karena itu solusi terhadap pelemahan rupiah seharusnya tidak selalu dalam bentuk kenaikan suku bunga. Lalu apa yang harus dilakukan? Untuk mendapatkan solusi yang tepat, kita harus memahami kenapa rupiah kita begitu rentan terhadap shock global. Kenapa rupiah kita begitu mudah terdepresiasi.

Kenapa rupiah kita begitu rentan? Ada dua alasan.

Pertama, transaksi berjalan di neraca pembayaran kita hamper selalu mengalami defisit. Neraca perdagangan diwarnai oleh ekspor yang pertumbuhannya sangat bergantung kepada dinamika harga komoditas di pasar global. Sementara ekspor barang-barang manufaktur kalah bersaing di pasar global, disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari kelangkaan barang modal dan bahan baku, kerumitan perburuhan dan pengupahan, sampai pada keterbatasan infratruktur pendukung.

Ketika harga komoditas di pasar global jatuh, pertumbuhan ekspor seperti terhenti. Ketika permintaan dalam negeri naik, industri memacu investasi, pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku terpacu melewati pertumbuhan ekspor. Belum lagi bicara ekspor dan impor migas. Lifting minyak yang terus menurun hingga mendekati 700 juta barel per hari, membuat kenaikan harga minyak justru membuat impor minyak melambung tinggi menciptakan defisit transaksi minyak yang tinggi. Karakteristik neraca perdagangan ini terlihat nyata pada data Juli 2018 dimana kita kembali mengalami defisit sebesar 2,03 milyar dolar AS. Total defisit perdagangan dari Januari hingga Juli 2018 sudah lebih dari 3 miliar dolar AS.

Defisit Transaksi Berjalan terutama diperburuk oleh neraca perdagangan jasa, dan neraca pendapatan primer. Pada sektor jasa, hampir seluruh jasa pelayaran dan asuransi untuk keperluan impor kita menggunakan perusahaan asing. Sungguh ironi, negara kita yang merupakan negara kelautan dimana dua pertiga luas wilayah adalah lautan justru tidak memiliki perusahaan pelayaran yang bisa membantu seluruh kegiatan ekspor dan impor kita. Demikian juga dengan asuransi. Yang menyedihkan kondisi ini sudah diketahui belasan tahun yang lalu, tapi seperti tidak pernah ada upaya memperbaiki.

Neraca Penerimaan Primer menjelaskan berapa besar return investasi yang harus kita bayarkan kepada para pemodal asing yang berinvestasi di Indonesia. Defisit neraca pendapatan primer kuartal ketiga 2018 yang mencapai kurang lebih 8 milyar dolar AS berperan signifikan terhadap defisit transaksi berjalan sebesar -4,3 miliar dolar AS. Angka ini menjelaskan bahwa bila kita bisa menekan defisit neraca pendapatan primer hingga 50 persen, transaksi berjalan bisa jadi akan surplus.

Ironisnya sekali lagi, tidak pernah ada upaya mengurangi defisit neraca pendapatan primer. Kuncinya adalah kita terlalu liberal. Kita memang membutuhkan investasi asing, tetapi seharusnya kita masih punya posisi tawar untuk menahan para investor asing dalam menarik keuntungan dari investasi mereka. Kita bahkan bisa seperti China yang memaksa para investor asing untuk menanamkan kembali keuntungan mereka di dalam negeri, sehingga investasi langsung di China terus mengalami peningkatan yang berkesinambungan.

Rupiah kita mengalami kerentanan disebabkan kita membiarkan transaksi berjalan kita selalu defisit, tanpa kita berupaya sungguh-sungguh untuk membuatnya surplus. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional