BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies
Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-2)

Kita tidak against terhadap kebijakan moneter ketat. Tetapi ketika akan diambil kebijakan serupa perlu dilihat dulu bagaimana dampaknya terhadap sektor keuangan dan perbankan. Sebenarnya kebijakan kenaikan bunga BI yang terbaru kemarin itu di luar ekspektasi pelaku pasar. Bahkan beberapa lembaga membuat mini survey kepada para pengamat ekonomi. Hampir semuanya mengatakan BI akan menahan kenaikan suku bunga acuan 7-DRRR.

Memang langkah pengetatan moneter terbilang wajar karena tidak ada pilihan lain. Hanya, isu berikutnya adalah pada dampak tingkat bunga dan kredibilitas bank sentral ketika sasarannya adalah nilai tukar.

Kalau masalah current account defisit (CAD) sebenarnya bukan ranah BI secara langsung. Meskipun itu juga ada peran BI ketika berbicara masalah eksternal. Pada CAD, banyak stakeholder di situ. Memang, itu masalah struktural dan tidak bisa instan diselesaikan. Namun dalam jangka pendek ini kita perlu apresiasi langkah pemerintah dalam upaya menurunkan defisit, seperti menunda pelaksanaan proyek-proyek yang impor content-nya tinggi.

Pemerintah juga mengupayakan optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE). Saat ini baru 80 persen DHE yang telah masuk atau dibawa pulang ke Indonesia. Sisanya masih tersimpan di bank-bank luar negeri. Hal itu adalah upaya non struktural atau persuasif berupa himbauan kepada eksportir untuk membawa pulang ke Indonesia DHE yang tersimpan di luar. Dari 80 persen yang berhasil dipindahkan ke dalam negeri, sekitar 30 persennya baru bisa dikonversi menjadi rupiah. Sisanya masih dalam bentuk valas. Kalau yang masih dalam bentuk valas itu dikonversi menjadi rupiah, maka akan membantu supply terhadap dolar AS sehingga rupiah kemungkinan akan terapresiasi kalau ada konversi dari valas ke rupiah dari DHE tersebut.

Mungkin insentif yang perlu diberikan kepada pelaku usaha adalah kemudahan ketika mereka ingin mendapat mata uang dolar AS kembali. Karena upaya konversi itu juga membutuhkan biaya. Kebutuhan biaya itulah yang mungkin bisa difasilitasi oleh pemerintah. Hal lain, ketika pelaku usaha ingin mengajukan pinjaman in term of US Dollar,  tingkat bunganya juga perlu di subsidi. Berbagai insentif pada prinsipnya bisa dilakukan.

Kesimpulannya terkait CAD, hal itu memang tidak bisa instant diselesaikan. Butuh revitalisasi struktur ekspor. Kemudian, dalam jangka panjang diharapkan kita tidak lagi tergantung pada eksport komoditas. Daya saing ekpor kita untuk produk-produk manufaktur secara relatif memang masih lebih rendah. Akibatnya kita selalu bergantung pada ekspor komoditas. Sementara harga komoditas cenderung lebih fluktuatif atau tidak menentu. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

FOLLOW US

Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi             Kasus Century Tanggung Jawab KSSK              Komnas Perempuan: BN Korban Pelecehan Seksual yang Dikriminalkan