BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies
Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-1)

Kondisi perekonomian global pada beberapa waktu terakhir ini memang memaksa BI harus melakukan langkah-langkah untuk meredam depresiasi rupiah lebih dalam. Tapi saya yakin BI telah memiliki perhitungan yang sangat matang ketika menetapkan kebijakan pengetatan moneter. Kebijakan BI memang cenderung hawkish atau agresif. Artinya, kondisi isu-isu terkini terkait dengan perang dagang dan kondisi konflik AS dengan Turki mungkin menjadi sebuah concern bagi BI untuk mengantisipasi agar rupiah tidak terdepresiasi lebih dalam. Sehingga menurut BI langkah-langkah itu perlu dilakukan untuk menjaga agar sektor keuangan di Indonesia tetap menarik bagi investor. Namun, yang perlu dikaji adalah bagaimana efektifitas dari kebijakan tersebut, karena nyatanya sudah 4 kali menaikkan 7-DRRR, rupiah tetap saja masih labil.

Kesimpulan sementara, isu stabilitas itu memang belum terjawab dengan jurus pengetatan moneter. Yang perlu dipertanyakan memang sejauh mana efektivitas kebijakan terkait volatilitas mata uang rupiah. Hal itu masih menjadi tanda tanya besar. Namun, perlu dipertimbangkan juga perihal menaikkan 7-DRRR itu nampaknya tidak semata menyasar rupiah. Saya yakin BI memiliki satu pertimbangan lain yang sangat penting yaitu menjaga confidence pelaku pasar terhadap perekomian Indonesia. Karena, menaikkan tingkat bunga sebetulnya sama saja dengan memberikan sinyal bahwa perekonomian Indonesia masih on the track. Masih sehat, sehingga menaikkan tingkat bunga pun tidak akan menjadi suatu masalah terhadap perekonomian dalam negeri.

Jadi poin utamanya adalah BI pasti memiiki perhitungan matang terkait pengambilan kebijakannya. Tentunya bertujuan ingin menjadikan pasar keuangan kita lebih menarik, kemudian menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Khususnya dari para investor portofolio di pasar keuangan.

Meski kita mempercayai kebijakan BI, namun kita patut mempertanyakan lagi--dengan kajian-kajian lebih mendalam secara akademik--sejauh mana efektifitas kebijakan moneter terhadap stabilitas rupiah. Yang dikhawatirkan adalah, rupiah  tidak kunjung stabil meskipun sudah dilakukan kenaikan tingkat bunga dan sektor keuangan domestik yang justru terdampak.

Analisanya, jika 7-DRRR naik, maka pasti akan diikuti kenaikan tingkat bunga pasar uang antar bank. Biaya dana di pasar uang antar bank akan semakin mahal, lalu tingkat bunga deposito juga pasti akan naik (cost of fund naik), sehingga tingkat bunga kredit juga ikut naik. Belum lagi, kenaikan 7-DRRR itu akan diikuti dengan kenaikan deposit facility, juga lending facility. Artinya lagi, pasti akan ada trade off ketika BI menerapkan kebijakan moneter ketat. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional