BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Master Business Administration Swiss German University
Menakar Kepentingan Politik 2019

DPR punya kepentingan politik yang cukup besar karena tahun 2018 ada persiapan Pemilu, jadi mencoba mendapatkan dana untuk persiapan 2019.        

Kebutuhan dana untuk kepentingan partai bisa eksis, dan juga upaya agar bisa terpilih kembali pada pemilu 2019 sangat besar. Hal itu membutuhkan biaya yang sangat besar dan pertarungan hidup mati untuk memperoleh kekuasaan.

Hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan APBN yang berarti membuat alokasi yang bisa membantu pengembangan partai dan pribadi. masalah bagaimana caranya  akan diatur dalam pengalokasian pengeluaran. Padahal sudah pasti sisi pendapatan tidak akan mampu membiayainya. Target pajak yang tidak tercapai memaksa pemerintah untuk menambah utang guna membiayai defisit anggaran.

Kalau melihat kondisi sekarang, penyusunan APBN didasarkan juga pada tingkat inflasi dan target pertumbuhan ekonomi. Namun penyerapan anggaran yang bisa dikatakan rendah dari kementerian dan lembaga menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi berjalan pelan atau melambat. Ini juga bisa disebabkan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Pembangunan Infrastruktur yg dilakukan melalui Goverment Spending ternyata tidak secara langsung memberikan multiple effect kepada kegiatan ekonomi di daerah. Anggaran berbasis kinerja dan penguatan sistem pengawasan pengeluaran, juga operasi tangkap tangan KPK, akan membuat pengguna anggaran semakin berhati hati dalam pelaksanaan proyek. Hal ini membuat serapan anggaran rendah. Juga pola yang dulunya melaksanakan proyek di akhir tahun anggaran, sementara peraturan Menteri Keuangan yang baru mengarahkan penggunaan anggaran secara bulanan, dan dinilai persentasenya per semester.

Kementerian dan lembaga harus melakukan banyak penyesuaian, jadi pasti tahun ini serapannya rendah. Ini tentu membuat pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari target.

Kalau dari sisi konsumsi sebagai faktor yang mendukung  pertumbuhan ekonomi, secara bisnis,  konsumsi riil stagnan atau cenderung menurun karena perubahan pola konsumsi masyarakat. Ternyata saving atau tabungan meningkat. Hal ini bisa dikatakan masyarakat sekarang menunggu apa yg akan terjadi. Untuk itu lebih baik menyimpan uang dari pada melakukan investasi yg belum pasti.

Hal lain juga bisa dilihat, pola konsumsi berubah ketika banyaknya tersedia minimarket dan e-commerce sehingga tidak membuat orang untuk belanja banyak. Prioritas belanja apa saja yang perlu, karena pilihan lokasi belanja banyak. Jadi tidak banyak pembelian dalam jumlah besar.

Harga minyak dunia yang tidak naik juga berakibat pada melemahnya sektor migas dan industri pendukungnya sehingga menurunkan kegiatan ekonomi di sektor ini.

Industri manufaktur juga tidak meningkat karena barang impor dari China masuk. juga bahan baku dari China menguasai pasar dalam negeri. Bisa dipastikan tidak ada peningkatan jumlah orang bekerja di sektor formal. Yang bertumbuh hanya sektor informal dan UKM yang nilai investasinya tidak terlalu besar. (pso)

 

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional