BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Memperkaya Kaum Kaya Sambil Mengubur Orang Miskin

Di tengah memuncaknya ketegangan politik akibat Pilpres 2019, hoax kini menjadi senjata andalan untuk menjatuhkan lawan. Kebanaran, demokrasi, dan HAM nyaris tak terdengar kecuali sebagai alat untuk menyerang lawan.

Semua itu menunjukan bahwa arena politik telah didominasi oleh orang-orang dengan tingkat intelektualitas sangat rendah. Apapun tingkat pendidikan mereka, termasuk yang bergelar doktor dari unveritas terkemuka di dunia, sama saja. Mereka lebih mengedepankan keuntungan pribadi atau kelompok ketimbang kepentingan bersama.

Konyol memang, apapun kubu politiknya,  mereka juga  suka mengaku sebagai korban dan sedang berjuang untuk kebaikan Indonesia. Tujuannya adalah membangun opini bahwa siapapun yang berseberangan dengan mereka adalah penjahat dan ancaman bagi masa depan Indonesia.

Sentimen SARA tentu saja tak bisa dilepaskan dari baku-hantam politik yang sedang memanas ini. Maklumlah, ada yang ikut 'bertempur' dengan semangat jihad, perang salib, superioritas ras, dan sebagainya. Bagi kaum oportunis, SARA atau tidak, yang penting dapat jatah kursi atau proyek.

Ketakutan demi ketakutan pun ditebar ke segala penjuru Indonesia untuk menjadikan lawan politik menjadi musuh masyarakat nomor satu. Seolah hanya junjungan politiknya yang bisa membuat Indonesia maju,  bebas dari kemelaratan dan kebodohan. Satu-satunya orang yang bisa menjadikan Indonesia bangsa beradab yang dihormati oleh dunia.

Sungguh menggelikan, karena mereka sendiri memberi contoh bagai manusia barbar. Fitnah dan umpatan mereka hamburkan setiap hari. Ulah merekalah yang telah membuat pilpres tahun ini mungkin paling tidak beretika sejak tumbangnya Orde Baru.

Demikian kasarnya pilpres tahun ini,  saling curiga dan benci telah merebak di segala pelosok negeri. Indonesia seolah sedang menuju perang saudara, dan tak ada yang peduli. Ini tampaknya sejalah dengan titah kaum elite yang menganggap cara apapun boleh dilakukan demi sebuah kemenangan. Sedangkan rakyat cukup dijadikan obyek, yang sesekali perlu diberi pelipur lara agar tak mencoblos pihak lawan.

Perang politik yang makin kurang ajar ini, terjadi di tengah kian gemerlapnya kehidupan kaum superkaya. Kaum yang sekarang ini menjadi penyandang dana andalan para politisi elite dan parpol papan atas. Lihat saja hasil kajian Institute For Depelovment of Economics and Finance (Indef),  yang menemukan bahwa pada 2018 pengeluaran 20 persen orang terkaya di Indonesia setara dengan 46,09 persen dari total pengeluaran penduduk.

Sedangkan menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), dalam beberapa tahun belakangan laju penurunan angka kemiskian melambat,  sementara disparitas kemiskinan antara perkotaan dan pedesaan masih sangat tinggi. Penduduk miskin di perkotaan sampai Maret tahun lalu adalah 7,02 persen, sedangkan di pedesaan mencapai 13,2 persen.

Kajian tersebut mengingatkan pada lagu Civil War karya Guns N'Roses tetang perang saudara: It feeds the rich while it buries the poor. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei