BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana dan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia
Membunyikan Klakson adalah Hal Konyol

Menurut saya cara merespon pemasangan spanduk dengan membunyikan klakson sebanyak tiga kali adalah model gerakan politik konyol. Karena tidak mengajarkan rakyat berpolitik secara sehat. Memerintahkan orang klakson di jalan itu bukan cara politik yang menyandingkan gagasan, tapi lebih kepada napsu politik.

Selanjutnya terkait pembangunan tol, kalau orang pernah melintasi jalur Pantura hingga Surabaya, maka mereka akan merasakan bagaimana sulitnya transportasi darat tanpa tol dengan mobilitas pengangkut kebutuhan pokok yang amat sulit. Jalan tol sangat membantu distribusi barang antar kota.

Kalau ada keyakinan yang mengatakan mudik tahun ini akan lebih lancar dibandingak 30 tahun terakhir, saya kira ini adalah fakta dan semua pihak sulit membatahnya. Sehingga saya rasa keyakinan tersebut tak berlebihan.

Lagipula menurut saya Jokowi tak perduli dengan kritik-kritik yang dianggap tidak konstruktif dan cenderung menghina. Sementara terkait pemasangan spanduk, saya kira ini hanya kreativitas para pendukung saja, dan sebuah pesan politik kepada publik bahwa Jokowi sudah bekerja dengan baik, tak seperti yang dikampanyekan lawan politiknya selama ini.

Sementara itu mengapa Bawaslu tidak melarang spanduk itu dipasang, karena Bawaslu tentu bekerja atas dasar aturan dan mereka belum bisa melarang, sebab waktu bekerja pengawas pemilu baru dimulai bulan September 2018 mendatang. Saya kira tidak ada ada aktor dibalik pemasangan spanduk, ini hanya kreativitas masyarakat, khususnya pendukung Jokowi

Harusnya memang hari raya itu tak boleh dinodai, tapi karena lawan politik terus melakukan kampanye ganti presiden tanpa solusi menyelesaikan persoalan bangsa, sehingga ini menjadi pemicu bagi kelompok pendukung untuk melakukan perlawanan. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Melibatkan Institusi Polri dalam Politik Birokrasi Sangat Berbahaya             IPW Tak Yakin Syafruddin Bisa Selesaikan Masalah Birokrasi Di Indonesia             Susahnya Wujudkan Birokrasi yang Profesional dan Netral             Implementasi Ekonomi Kerakyatan, Berharap Kepada BPIP             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-1)             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-2)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-1)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-2)             Jadikan Asian Games 2018 Titik Awal Merubah Kebiasaan Buruk             Pendidikan Budi Pekerti Sangat Penting!