BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sekretaris Dewan Pakar PA GMNI
Membangun Sistem IT yang Solid

Sistem ekonomi negara di dunia setelah berakhir perang dingin beralih ke kapitalisme yang sosialistik seperti di Amerika Seriikat (AS), negara-negara BRIC, Jepang, Eropa dan lainnya dimana keadilan sosial lebih bisa dirasakan dalam masyarakat bawah dan masyarakat petani untuk mencapai kesejahteraan yang luar biasa.

Semua diawali dalam wadah koperasi, seperti contoh di Jepang ada Koperasi Zennoh, yakni koperasi pertanian yang omsetnya jauh lebih besar dari Sogo dan dikelola secara modern.

Namun pada dasarnya petani bisa sejahtera jika ada lahan luas yang digarap bersama agar efisien dan efektif. Dalam era globalisasi ini, semula negara-negara maju menggunakan sistem ekonomi berbasis industri berat, kemudian mengalami stag karena berbagai kendala dan beban berat, maka AS mengawali perubahan dengan masuk ke industri berbasis smart idea dan sebagainya, seperti  Apple, Microsoft, dan lain-lain yang memberikan multiplier effect sangat besar pada pertumbuhan ekonomi dan menembus semua sektor, termasuk juga dalam bidang pertanian.

Lalu muncul istilah-istilah “Agrotech”, “MGo” dan lain-lain, dan sistem moneter Bitcoin. Disebut juga Revolusi Industri 4.0. Jadi penerapan IT untuk  membangun kedaulatan pangan sangatlah tepat tapi harus sistematis dan terintegrasi serta dibutuhkan keseriusan pemerintah untuk menghapus hambatan-hambatan seperti impor, monopoli benih, pupuk, dan membantu permodalan awal--termasuk pendirian pabrik yang menjembatani proses hulu kehilir seperti membangun laboratorium reset tentang enzim, biotech dan lain-lain

Semua itu harus diawali dengan mapping lahan-lahan yang dimiliki koperasi, gapoktan, swasta, database tentang hara tanah, ketinggian sea level, curah hujan/sumber air, dan jenis tanaman.                      

Induk koperasi akan menentukan sistem distribusi, sistem financing dan marketing, juga jenis-jenis benih yang cocok berdasar kondisi tanah jenis enzim dan jenis pupuk. Para petani yang tergabung dalam koperasi hanya melaksanakan kegiatan bertanam dan memelihara. Tidak memikirkan bagaimana menjual dan kemana harus dijual. Tidak memikirkan kredit bank. Induk koperasi menentukan standarisasi harga setiap tahun, dan bersama BUMN pangan-Bulog mencegah fluktuasi harga. Semua dikelola dengan IT systems, petani pun menerima hasil penjualan langsung pada rekening banknya di bank Pertanian.

Kesimpulannya, IT systems sangat diperlukan untuk percepatan kesejahteraan petani, namun tidak bisa parsial dan harus terintegrasi. Sistematikanya tetap berlandaskan perlunya dibangun koperasi-koperasi dari tingkat desa sampai induk koperasi di tingkat nasional.

IT Systems dengan mapping lahan data base dengan sistem distribusi, sistem financing, sistem marketing dengan standarisasi harga oleh induk koperasi akan banyak memotong mata rantai penjualan, dan mempercepat kesejahteraan petani.

Di pihak lain, konsumen dimudahkan dengan IT karena muncul jenis bussines content dalam bidang komoditi pertanian sehingga buyer bisa langsung  kontak dengan supplier (koperasi petani sejenis dan memotong mata rantai distribusi) yang menguntungkan kedua belah pihak.

Status pendidikan (SDM yang masih rendah) tidak menjadi kendala karena pengurus koperasi lah yang akan melaksanakan komunikasi dengan induk koperasi. Biasanya pengurus koperasi adalah anak-anak petani sendiri yang terdiri dari sarjana berbagai bidang.  Contoh di Jepang, internet tidak boleh masuk desa pertanian dan hanya boleh sampai di kantor koperasi. Agar kultur masyarakat petani tidak diinfiltrasi oleh budaya luar.        

Contoh lain yang sangat menarik di Indonesia, ada sarjana IT lulus dengan cumlaude dari ITB lalu diminta MIT untuk melanjutkan studinya disana. Dia menolak karena lebih suka bergotong-royong dengan IT systems membangun komunitasnya dan melakukan riset pengembangan enzim untuk membantu petani. Apalagi bila laboratorium riset untuk pertanian dibangun dengan lengkap sehingga akan didapat produk-produk inovatif oleh generasi milenial, dan meningkatkan kesejahteraan petani. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional