BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Wakil Ketua DPW Kombatan Bali, Dosen Universitas Mahendradata Bali
Masalah Bahasa Inggris Vs Bahasa Arab

Polemik baru muncul lagi soal bahasa dalam sesi debat. Dimulai dari Kubu Prabowo Uno yang menatang sesi debat capres wapres menggunakan bahasa Inggris , sedang kubu Jokowi-Maruf mengusulkan Bahasa Arab. Perseteruan berbagai model ditampilkan dari kubu Prabowo Uno ada lagu Ganti Presiden 2019  juga  

pihak pendukung Jokowi Maruf juga melantunkan lagu " Gak Mau Ganti Presiden , Jokowi tetap presiden "

Pendukung masing masing capres-cawapres saling singguk mencari kelemahan kelemahan dan provokasi lewat medsos tidak beretika lagi karena ejekan hinaan bermunculan vulgar.
Panasnya situasi yang dibangun para pendukung capres cawapres justru kesan demokrasi indonesia sungguh menakutkan dimata masyarakat. Belum lagi teror maupun intimidasi bisa saja terjadi lebih keras dari pemilu pemilu sebelumnya. 

Pilpres bukan lagi dipandang sebagai proses pengabdian untuk membangun bangsa yang lebih baik tetapi lebih dipandang sebagai ajang perebutan kesempatan bagi golongan untuk lebih menikmati hasil kemenangan. Kalau demikian halnya rakyat mau dikemanakan  Atas suksessi kepeminpinan.

Maka rakyat yang sadar akan tidak mengambil peran banyak toh setelah pemilu mereka pada berangkulan. Rakyat yang tadinya melitan mendukung calon tertentu secara langsung tidak merasa beruntung malah buntung karena terancam disarmonisasi pergaulan atau hubungan.

Dengan munculnya ide atau usulan debat sesi bahasa Inggris. Saya kira KPU tidak serta merta mengakomodir  karena penggunaan bahasa sudah diatur undang-undang yakni Bahasa Indonesia yang benar. Jika dipaksakan akan timbul somasi dari berbagai pihak.

Tentu dengan suhu semakin memanas diharapkan pihak lembaga penyelenggara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) harus gencar menyuarakan bahwa demokrasi ini sangat penting  dan menyenangkan karena ajang pemilu itu dikatakan "Pesta Demokrasi " indentik dengan kegembiraan dalam demokrasi. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan