BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Rektor Universitas Lakidende Konawe, Sulawesi Tenggara
Manfaatkan Digital Farming

Dunia pertanian harus sudah mulai bergerak ke Digital Farming. Masalah saat ini salah satunya adalah, bagaimana memotivasi kaum muda kita untuk tetap tinggal di desa sebagai kunci ketahanan pangan. Harus ada solusi komprehensif bagaimana mensiasati dunia pertanian kita dengan kaum tani yang mayoritasnya usia tua.

Krisis ke depan bagi penduduk bumi adalah krisis pangan dan air di belahan utara khatulistiwa. 70 persen penduduk bumi belahan utara khatulistiwa akan mencari lahan pangan baru, dan mereka sudah mendapati bahwa pangan dan air berlimpah di kawasan Asia utamanya di Brasil, Kongo dan Indonesia. Di ketiga negara itu terdapat timbunan pangan karena berada di garis khatulistiwa. Otomatis akan ada perebutan sumber daya alam untuk pangan dan air.

Saat ini penduduk Indonesia sudah harus berpikir ke laut untuk mendapatkan pangan. Apalagi karena 70 persen wilayah RI adalah lautan. Masalah kita 15 tahun ke depan adalah pangan, air dan energi. Repotnya sekarang Indonesia tidak mandiri dalam  pengadaan pangan.

Untuk mandiri harus kita urus dengan benar para petani. Gapoktan dan Poktan (kelompok tani) harus diberdayakan. Kemarin ada Rp16 triliun dana untuk anggaran teknologi pertanian. Jadi per tahun disediakan Rp4 triliun, tetapi sayang nya tidak mendorong peningkatan hasil pertanian. Kemana mengalirnya dana yang amat banyak tersebut, masih perlu dijelaskan.

Untuk meningkatkan dunia pertanian sudah saatnya konsep Pentahelix dipergunakan kembali. Perlibatan perguruan tinggi, LSM, birokrasi dan lain-lain sumber daya perdesaan. Perguruan tinggi harus kembali hadir di pertanian. Ada baiknya kader-kader muda pertanian kita dikirim belajar ke Korea dan Taiwan, biarkan mereka belajar sampai faham selama 1 tahun, lalu kembali ke desa mempraktikkan ilmunya.

Masa depan pertanian RI sekarang ada di kaum muda kita yang berusia 24 sampai 39 tahun. Dan kebanyakan mereka sekarang ada di kampus. Juga harus dibarengi dengan visi baru ihwal digital farming. Dengan digital farming, tidak memberi kesempatan kepada para tengkulak bermain karena kita pergunakan unsur ABC. A adalah Artificial, B adalah Big Data dan C adalah Connectivity. Seharusnya sudah dikompilasi semua data para petani kita, berapa keluarganya, dan kepemilikan lahan. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan