BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Long And Winding Road

Ada atau tidak serangan teroris nilai rupiah dan harga saham akan terus merosot. Serangan teroris yang sedang menghebohkan Indonesia hanya mempercepat pelemahan kedua indikator ekonomi tersebut. Ini karena masyarakat kian menyadari adanya ketidakberesan dalam pengelolaan perekonomian nasional.

Masyarakat sudah paham bahwa napsu besar pemerintah dalam berburu utang dan mengandalkan impor untuk menjinakkan inflasi sebagai pertanda buruk dalam pereknomian ansional. Napsu ini membuat cadangan devisa merosot karena cicilan utang dan impor harus dibayar menvgunakan dollar AS. Apalagi banyak duit utang tersebut dipakai untuk proyek infrastruktur dengan studi kelayakan tak jelas, dan telah mengakibatkan berbagai kecelakaan kerja berakibat fatal.

Hal itu tentu saja tak lepas dari program pembangunan yang dibuat asal mentereng dan sarat utang. Dampak paling nyata dari strategi ini tampak pada realisasinya yang ibarat 'panggang yang sangat jauh dari api'. Lihat saja laporan Bank Indonesia, yang menyebutkan bahwa  proyek strategis nasional (PSN) yang diusung Presiden Joko Widodo sejak 2015 hingga akhir 2017 cuma rampung dua persen.

Bahkan yang rampungpun menyimpan tanda tanya besar, terutama soal biaya. Indikasinya, tarif tol di Indonesia tertinggi di Asia. Tol yang dibuat jaman Jokowi sama saja. Tarifnya bahkan lebih tinggi dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan China meski harga tanah di negara-negara ini lebih mahal.

Penghamburan dana juga kian kasatmata di sektor pangan. Berbanding terbalik dwngan klaim pemerintah bahwa produksi terus meningkat sehingga Indonesia kian dekat dengan swasembada pangan. Impor 7 komoditas pangan- beras, jagung, gandum, ubi kayu, bawang putih, kedelai, dan gula tebu- meningkat dari 21,7 juta ton pada 2014 menjadi 25,4 juta ton pada 2017.

Jadi jangan heran kalau defisit perdagangan kian bengkak. Pada April lalu defisit tersebut mencapai 1,63 miliar dollarAS. Ini kenaikan ketiga kalinya dalam empat bulan pertama tahun ini.

Maka, untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri, pemerintah tampaknya harus mendegar tembang 'Long and Winding Road' punya The Beatles. (afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Bangun Infrastruktur, Juga Manufaktur Orientasi Ekspor             Capaian yang Bagus, Upayakan Terealisasi             Perang Kepentingan Melawan Korupsi             Nilai-Nilai Pancasila Sudah Lama Tewas             Setop Adu Nyinyiran             Pembenahan ke Dalam di Era Disrupsi              Mencegah 'Barjibarbeh'             Perlu Tindak Lanjut Komitmen Investasi             Tantangan Fiskal Di Tengah Gejolak Global             Akhlak Turun Ke Titik Nadir, Seks Bebas Tumbuh Subur