BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat politik dari Universitas Telkom, Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik
Lebih Baik Kongres 2020

Setidaknya ada tiga asumsi mendasar isu perpecahan mengemuka. Pertama, Demokrat terbukti gagal mempertahankan dominasi raihan suara di Pemilu 2019. Hal ini kemudian ditafsir sebagai runtuhnya pengaruh elektoral SBY sebagai ketua umum. Maka KLB bisa saja dijadikan alasan sebagai bagian dari evaluasi hasil Pemilu 2019.

Kedua, adanya dua kepentingan di tubuh Demokrat terkait jejak langkah Demokrat paska Pemilu. Antara bertahan dengan koalisi Adil Makmur, atau merapat ke Istana. Asumi ini cukup rasional karena waktu yang terbatas, keputusan memilih pihak yang akan dijadikan sandaran harus diambil sebelum pemerintahan terbentuk pada Oktober. Itulah mengapa KLB dihembuskan, karena jika menunggu periode sesuai AD ART maka kehilangan momentum.

Ketiga, ada upaya menghentikan langkah politis AHY yang disinyalir disiapkan menggantikan Ayahandanya. Tentu dalam politik, hal oligarkis demikian tidak baik bagi sebagian kader Demokrat. Maka salah satu jalan yang ditempuh adalah KLB, dengan harapan taji AHY belum terlalu kuat. Jika mengikuti waktu normal, bukan tidak mungkin AHY semakin gencar lakukan manuver politik ke dalam tubuh Demokrat.

Persoalan apakah ada makelar ketum, rasanya itu bukan panggung depan politik. Artinya bisa saja ada, tetapi tidak bisa menjelaskan kondisi yang rasional. Lebih pada isu untuk menciptakan kegaduhan, terutama di internal Demokrat. Tujuannya tetap sama, menghentikan kekhawatiran pewarisan ketua umum ke AHY.

Jika ditanya lebih baik Kongres 2020 atau KLB, idealnya tentu Kongres 2020. Selain karena tidak adanya persoalan sepanjang kepemimpinan SBY, kongres menegaskan konsistensi Demokrat dalam berpijak. Artinya hendak kemanapun pilihan politik Demokrat 5 tahun ke depan, merupakan keputusan kolektif parpol. Bukan kepentingan faksi tertentu di internal Demokrat.

Dan juga, memaksa Demokrat menuju ke ruang KLB agak sulit dalam waktu singkat ini. Selain SBY terlalu kuat bagi sebagian besar kader terutama kalangan senior, juga karena momentum kedukaan yang semakin menambah simpati ke SBY. Jika ingin berstrategi, baiknya hindari momen-momen sentimentil. (mkn)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir