BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Presenter Talk Show Mata Najwa
Kuncinya, Membuat Isu Penting Jadi Dekat Buat Milenial

Milenial kata yang begitu laris saat ini. Padahal belum ada definisi yang pas dan bagaimana karakteristiknya. Kerap  kali definisi yang ada mengeneralisir. Apalagi bila kita bicara generasi mileial Indonesia. Kita negeri yang sangat  luas dengan kesenjangan yang luar biasa besar dan rasanya--secara sadar atau tidak--kita kerap kali menggunakan  kacamata Jakarta atau kota-kota besar ketika kita bicara siapa itu milenial. Padahal, faktanya, tidak semua generasi milenial--mereka yang lahir 1980 sampai 1994--fasih di online, punya pacar lewat Tinder, menggantungkan pangannya lewat GoFood, tidak semuanya jadi subscriber (YouTube) Atta Halilintar. 

Jadi, kacamata milenial anak gaul Jaksel itu berbeda dengan remaja di pesisir Cilacap, misalnya. Apalagi bila kita bicara wilayah-wilayah di luar Jawa. Maka, kita harus hati-hati untuk tidak mengeneralisir. Ross Tapsell, Indonesianis  dari Australia National University, m engkonfirmasi betapa kita melebih-lebihkan istilah milenial. Padahal sebagian  besar milenial Indonesia tergolong miskin secara status ekonomi, remaja milenial putri kebanyakan menghabiskan waktu di
rumah, tidak terpapar online. Indonesia terlalu luas untuk dikotak-kotakkan. 

Menariknya, bila dikaitkan dengan politik, suara mereka kaum milenial ini dihitung satu saja--walaupun begitu berbeda aktivitasnya, yang satu online terus yang lain tidak.    

Seluruh media di dinia menyebut generasi milenial itu pragmatis, individualistis, narsis cinta pada diri sendiri. Tapi terlepas dari pragmatisme itu, saya percaya generasi milenial Indonesia tidaklah apolitis. Mungkin mereka masuk kategori apatis. Tapi bukan apatis yang buta. Lebih ke apatis yang kritis. 

Jadi, mereka akan berkontribusi pada gerakan yang nonkonvensional, tidak melulu lewat pemilu. Itu satu hal yang saya yakini. Bahwa milenial itu bukan tidak peduili politik, tetapi mereka menarik garis batasan yang keras antara urusan politik dan urusan sosial, walaupun dalam faktanya sesungguhnya itu sangat bersinggungan.

Bagi mereka politik sebatas urusan tetek bengek pemilu atau urusan partai politik. Bahwa politik praktis sebetulnya cara paling efektif untuk mencapai kepentingan sosial apapun itu, mereka hindari. Jadi, kalau ada kesulitan ekonomi pilihan rasional buat anak muda adalah bikin startup atau jadi entrepeuneur. Pilihan masuk ke partai sehingga bisa mengubah kebijakan pajak misalnya, jauh dari bayangan. Atau lebih baik ikut petisi di Change.org daripada bersusah-
susah mencuri kesempatan supaya dapat jabatan biar bisa merancang undang-undang. Jadi pilihan-pilihan politik praktis itu betul-betul dihindari. 

Partisipasi politik anak muda itu seperti apa sih? Dan apa karakteristiknya? 

Ada tiga karakteristik partisipasi politik milenial menurut Profesor Ariadne Vromen dari University of Sydney. Yang pertama, pakai pendekatan digital. Entah mengomentari kasus Andi Arief atau bikin petsis di Change.org serta donasi di KitaBisa. Pada pendekatan digital, media digital menjadi tempat pertama bagi anak muda untuk bisa berpolitik. Kedua, terpantik isu. Anak muda kita mengikuti setiap isu politik dan mereka berani berkomentar. Itu juga bentuk aprtisipasi
politik. Ketiga, individualis. 

Tapi, sekali lagi, individualisme-nya bukan berarti tidak peduli. Mereka melihat politik sebagai "Apakah ada manfaat atau dampak nyatanya untuk mereka? Apakah bisa membuat saya memenuhi kebutuhan?" atau "Bisakah membuat saya mengembangkan kreativitas? "Kuncinya adalah membuat isu penting jadi dekat kalangan milenial. Sedikit humaor dan kontroversi biasanya menjadi lebih tertarik.  

Anak muda peduli politik, kok. Mereka peduli pada isu. Misalnya, mereka tak mau punya wakil rakyat yang tambah membuat malu. Survei Litbang Kompas mengatakan anak muda apatis. Tantangannya sekarang bagaimana menjernihkan pandangan anak muda soal politik. Karena politik kita sekarang di panggung terbuka melulu berisi keributan antar-orang bicara entah apa yang bahkan berbeda dengan apa yang dikatakan sebelumnya dan tidak malu dengan itu.

Hal itu yang akhirnya yang membuat orang alergi politik. Tantangannya sekarang mengembalikan jati diri politik sesungguhnya. Politik yang mengurusi kehidupan kita sehari-hari dari kita sebelum lahir sampai kita di liang lahat. Politik bukan cebong atau kampret. Politik bukan siapa yang kita pilih, tapi bagaimana kita menjalani hidup sehari-hari. Seluruh aspek kehidupan kita sebetulnya politik. 

Dan kuncinya menurut saya adalah membuat itu relevan, dirasa penting, tugas media membuat persoalan penting menjadi menarik sehingga membuat orang lain merasa hal itu juga penting. Pramoedya bilang diwawancara edisi perdana majalah Playboy Indonesia, "Saya percaya sejarah Indonesia ditentukan anak-anak muda. Angkatan tua itu hanya beban." Jadi, mari sama-sama mencetak sejarah. (ade)   

Catatan: Opini ini disampaikan di acara talk show LINE TODAY, Kamis, 14 Maret 2019 di Jakarta.                 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei