BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies
Kuartal 2/2019 Situasi Akan Membaik

Sebenarnya kalau melihat tren konsumsi rumah tangga dari 4,94 pada kuartal sebelumnya ke 5.01 pada kuartal I/2019 bukanlah sebuah angka yang buruk. Artinya angka itu tumbuh lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jadi kiranya hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan.

Kalau memang tidak sesuai prediksi, maka bisa banyak faktor penyebabnya tergantung dari metode proyeksinya. Tetapi kalau dilihat dari capaian pertumbuhan konsumi di angka 5,01 persen, bukan sesuatu yang buruk. Artinya bisa tumbuh lebih bagus dari periode yang sama. Masih ada kenaikan aktivitas konsumsi masyarakat.

Pengaruh kenaikan harga tiket pesawat yang menyebabkan laju kenaikan konsumsi melambat, itu bisa saja. Tapi dampak secara agregat makro tidak akan terlalu besar. Oleh karena itu konsumsi kita masih bisa tumbuh lebih tinggi dari periode sebelumnya.

Berbeda misalnya ketika tidak ada kenaikan harga tiket pesawat yang mempengaruhi aktivitas pariwisata, akomodasi, perhotelan, maka mungkin tumbuhnya konsumsi akan lebih tinggi lagi dibandingkan kondisi sekarang. Intinya, dengan adanya kondisi seperti ini saja, kita masih bisa tumbuh lebih tinggi.

Di sisi lain, terkait aktivitas perusahaan atau variable “i” dalam PDB, itu lebih dipengaruhi oleh momen politik. Selama kuartal I/2019 kemarin masih dalam masa-masa kampanye dan persiapan mendekati pemilu sehingga investor khususnya FDI atau investasi langsung PMA dan PMDN banyak yang menunda realiasi investasi karena menunggu kepastian presiden terpilih.

Sikap menunggu, terkait risiko yang dialami jika terpilih misalnya presiden yang tidak sesuai harapan investor, maka mungkin diperkirakan akan mempengaruhi aktivitas kelancaran bisnis.

Kebetulan, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden memiiki visi yang cukup berbeda dalam hal arah ekonomi. Sehingga memberi pengaruh pada ekspektasi investor. Tak heran sikap wait and see dipilih investor sampai nanti pada masa penetapan calon presiden terpilih.

Rasanya memang pada kuartal I/2019 lebih dipengaruhi oleh masa persiapan pemilu. Investor tidak mau terlalu banyak ambil risiko terhadap investasi yang ditanam.

Kemudian, faktor ekonomi global sedikit banyak masih berpengaruh. Trade war antara USA dan China masih belum mereda sehingga aktivitas investasi domestik terutama investasi produk-produk ekspor Amerika dan China juga agak stagnan.

Namun demikian pengaruh eksternal atau luar negeri bagi unsur-unsur pembentukan PDB tidaklah begitu besar pengaruhnya, dibanding pengaruh momen politik persiapan pilpres pada kuartal I/2019 terhadap aktivitas investasi.

Angka konsumsi pada masa puasa dan hari raya nanti diprediksi akan naik karena memang situasional seperti itu. Demand barang dan jasa juga akan naik. Tapi pasti diikuti oleh kenaikan inflasi.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2019 kemungkinan akan lebih tinggi dibanding pada kuartal I/2019. Memang pertumbuhan ekonomi kuartal I/2019 lebih rendah dari prediksi pengamat ekonomi, tapi harus juga dilihat pada awal tahun biasanya agregat demand memang berkurang. Inflasi juga turun pada kuartal I/2019.

Inflasi menurun juga dimungkinkan oleh menurunnya daya beli masyarakat. Tercatat Inflasi menurun lebih rendah dibanding periode Desember 2018 yakni 3,1 dan periode Maret 2019 inflasi 2,48.  Sejak Desember 2018  lalu memang angkanya terus menurun, itu artinya aggregate demand masyarakat menurun.

Kemungkinan daya beli masyarakat juga menurun karena sebagian masyarakat juga menunda konsumsi. Angka konsumsi agak terjaga karena kemungkinan adanya bansos (PKH) yang diberikan pada Januari dan April lalu.

Pada kuartal ke II/2019 nanti diprediksi angka pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi dibanding kuartal I/2019. Angkanya berkisar di atas 5,1 persen.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2019 akan lebih tinggi karena government spending di pemilu besar. Aktivitas belanja pemerintah besar untuk momen pilpres. Kedua, memasuki moment puasa dan Idul Fitri 2019. Hal itu pasti akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Aktivitas investasi juga diprediksi akan kembali berjalan normal. Adanya kepastian siapa presiden baru hasil pilpres akan menambah rasa percaya diri para investor. (pso)

 

 

 

 

 


 

 

 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan