BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Kritik Keras Ala John Lennon

Teroris di negara seperti Indonesia, di mana kemiskinan masih bergentayang di segala pelosok negeri, ibarat 'patah tumbuh hilang berganti'. Betapa pun kerasnya Densus 88, tak akan menyurutkan semangat kaum teroris, tak akan kekurangan stok orang nekat untuk menebar kematian di mana saja dan kapan saja.

Kaum teroris tentu paham betul di Indonesia banyak orang menderita secara fisik maupun psikis, karena kemiskinan dan merasa diabaikan oleh negara. Meski  tak semua, kaum yang menderita ini adalah sasaran empuk untuk direkrut dengan berbagai janji sorgawi dan jalan pintas untuk keluar dari kemiskinan.

Mencuci otak mereka juga menjadi lebih mudah karena rendahnya tingkat dan kualitas pendidikan orang dewasa dalam usia produktif  pada umumnya. Data BPS menunjukkan sekitar 60 peren angkatan kerja hanya berpendidikan SD dan SMP.

Untuk mencuci otak mereka juga tak terlalu sulit karena rendahnya mutu pendidikan. Survei oleh PISA (Programme for International Student Assessment) pada 2015 menemukan, 42 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun gagal mencapai standar minimal. Kegagalan ini terletak pada lemahnya kemampuan membaca, Matematika dan ilmu pengetahuan.

Bahkan kualitas pendidikan tingginya juga payah. Berdasarkan survei Times Higher Education, tak satupun universitas di Indonesia masuk dalam 100 universitas terbaik di Asia. Maka tak aneh bila gerakan-gerakan radikal yang dilandasi fanatisme ideologi menjamur di kampus-kampus perguruan tinggi.

Seperti kata mantan permaisuri Shah Iran, Farah Diba, fanatisme ada di semua agama apakah itu Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam hal ini Indonesia bukanlah pengecualian. Kaum fanatik ini juga suka saling mengganggu, dan mengklaim diri sendiri sebagai korban.

Dalam situasi seperti itu, jelas tak mudah bagi Indonesia untuk meredam terorisme dan membangun kehidupan beragama yang damai. Ini mengingatkan pada kritik keras ala mendiang John Lennon atas penyalahgunaan agama oleh mereka yang merasa relijius. "... nothing to kill or die for, and no religion too ". (cmk) 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung