BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Krisis Ekologi:  Nestapa Manusia Modern

Saat  ini  manusia  sedang  mengalami  krisis  kehidupan,  yang  mencakup  wilayah  yang sangat  kompleks  dan  global.  Sebagian  pengamat  menyatakan  bahwa  akar  dari  krisis  adalah  realitas  kemodernan,  yang  justru  dianggap  sebagian  besar  kalangan  sebagai  kreasi manusia  terhebat.  Wujud  dari  krisis  kehidupan  tersebut  salah  satunya  adalah  krisis lingkungan  yang  melanda  dunia  dewasa  ini.  Termasuk  bencana  demi  bencana  yang menerpa  negeri  ini,  khususnya  beberapa  tahun  terakhir.

Kerusakan  alam karena  manusia cenderung eksploitatif dalam penguasaan  alam.  Sejak  Descartes  mengungkapkan  teorinya, maka  dikotomi  subjek-objek  dalam  realitas  kemodernan  semakin  lebar.  Manusia  sebagai subjek  dan  alam  sebagai  objek.  Melalui  ungkapan  “saya  berpikir,  maka  saya  ada  (cogito ergo  sum)”,  Descartes  hendak  menyatakan  bahwa  eksistensi  sejati  di  jagad  raya  ini  hanya dimiliki  oleh  sesuatu  yang  berpikir.  Pikiran  benar-benar  terpisah  dari  materi,  bukan merupakan  satu  kesatuan  dalam  hubungan  mutual  yang  dinamis.

Hal  itu  mengakibatkan  dikotomi  antara  manusia  dan  alam,  yang  secara  tak  langsung melegitimasi  manusia  untuk  mengeksploitasi  alam  sekehendak  hati.  Inilah  yang  menjadi sasaran  kritik  kaum  perenialis  bahwa  modernisme  telah  memutus  rantai  keterkaitan antara  manusia  dan  alam,  yang  mengakibatkan  krisis  ekologi  yang  parah.

Padahal,  sebagian  filosof  mengatakan  bahwa  seluruh  makhluk  tercipta  melalui  proses emanasi  (teofani)  Tuhan.  Oleh  karena  itu,  seluruh  keberadaan  pada  hakikatnya  adalah satu  dan  sama.  Yang  membedakan  hanyalah  gradasi  dan  intensitasnya  saja.  David  Bohm, seorang  fisikawan  modern,  juga  mengakui  bahwa  jagad  semesta  ini  pada  awalnya terlingkupi  atau  terimplisit  bersama  dalam  satu  kesatuan  (implicate  order),  dan  dunia  keseharian  kita  sejatinya  adalah  tatanan  eksplisit,  yang terelaborasi  dari  tatanan  yang  implisit  tadi.  Dengan  demikian,  jagad  raya  ini  sebenarnya merupakan  rangkaian  sikls  di  mana  manusia  dan  alam  pada  hakikatnya  adalah  satu kesatuan  yang  tak  terpisahkan.

Martin  Buber  menegaskan  bahwa  manusia  umumnya  memandang  hubungannya  dengan alam  dalam  bentuk  “I-It”,  yang  mendeskripsikan  hubungan  subjek-objek.  Padahal, semestinya  hubungan  tersebut  dalam  bentuk  “I-Thou  (You)”,  yang  mendeskripsikan hubungan  subjek-subjek  yang  mengafirmasi  kebersatuan  dan  relasi  mutual  timbal-balik di  antara  keduanya.

Senada  dengan  itu,  Maria  Jaoudi  mencoba  mengamatinya  dari  perspektif  mistis  Islam  dan Kristen.  Menurutnya,  kedua  agama  besar  tersebut  sama-sama  memandang  pemanfaatan alam  untuk  tujuan  keuntungan  ekonomi  semata  merupakan  penyimpangan.  Alam merupakan  dimensi  cinta  Tuhan  kepada  umat  manusia  dan  meneguhkan  kemanusiaan mereka.  Menjadikannya “it” (objek  eksploitasi) merupakan  pengingkaran  terhadap keanggunan  dan  keindahan  yang  termuat  di  dalam  makna  keberadaan.  Karena  itu,  alam ini  mesti  disyukuri  dan  dihormati.

Beberapa  tahun  terakhir  para  cendikiawan—salah  satunya  adalah  William Chittick—mulai  memopulerkan  pandangan  antropokosmik,  yang  menegaskan  bahwa alam  tidak  dapat  dipisahkan  dari  manusia.  Pengetahuan  tidak  seharusnya  digunakan untuk  memanipulasi  alam,  melainkan  untuk  memahami  alam  dan  manusia  itu  sendiri, sedemikian  sehingga  manusia  dapat  memenuhi  kesempurnaan  kemanusiaannya.  Bahkan lebih  dari  itu,  sebagaimana  kata  Muhammad  Iqbal,  alam  pada  dasarnya  merupakan medan  kreatif  Tuhan.  Sehingga,  mempelajari  alam  dapat  menjadi  sarana  bagi  manusia untuk  mengenal lebih dekat  jejak-jejak dan cara kerja Tuhan. (cmk)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan