BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara
Kotak Kosong di Pilkada 2018, Demokrasi atau Demonkrasi?

Pilkada 2018 masih saja menyisakan sejumlah kemesuman politik. Bukan hanya praktek politik uang yang sudah mentradisi, tetapi juga fenomena kotak kosong di 16 daerah akibat hanya tersedia satu calon tunggal.

Proses pemilihan dalam sebuah mekanisme demokrasi memang sebuah kemestian karena setiap suara diperhitungkan untuk menentukan siapa yang akan memperoleh suara mayoritas. Yang menjadi persoalan adalah ketika proses demokrasi diselenggarakan dibawah kendali oligarki politik. Partai-partai politik saling menyandera untuk saling mengamankan kepentingan masing masing.

Pelibatan rakyat sebagai pemilik suara semestinya dilakukan melalui pengorganisasian massa yang mampu memberi pencerahan politik. Namun faktanya Pilkada tidak lebih cuma menjadikan rakyat sekadar kerumunan massa yang dimobilisasi sebagai ornamen politik dengan menggunakan berbagai sentimen isu-isu primordial yang dangkal, emosional dan jumud.

Praktek politik berlangsung hanya melahirkan praktek mobokrasi. Tepat apa yang dikatakan oleh Thomas Jefferson, “A democracy is nothing more than mob rule, where fifty-one percent of the people may take away the rights of the other forty-nine.”

Hal itu masih ditambah lagi keterlibatan para pemburu rente yang ikut menginvestasikan modalnya untuk memastikan kelangsungan bisnisnya bisa terus berkembang dengan penuh privilese di bawah perlindungan penguasa baru yang nanti terpilih. Mereka ini para penggiat plutokrasi yang oleh Theodore Roosevelt dikatakan, “Of all forms of tyranny the least attractive and the most vulgar is the tyranny of mere wealth, the tyranny of plutocracy.”

Tak heran jika korupsi masih terus saja marak berlangsung meski upaya pemberantasan korupsi tetap dilakukan. Perselingkuhan “threesome” antara oligarki politik, mobokrasi dan plutokrasi pada akhirnya menghidupkan sistem kleptokrasi, suatu pemerintahan yang dikendalikan oleh para pemimpin korup (kleptokrat). Kekuasaan digunakan untuk mengeksploitasi rakyat dan kekayaan alam demi menambah pundi-pundi kekayaan pribadi dan memperhebat kekuatan politik mereka.

Itu pula sebabnya Presiden kedua Amerika Serikat, John Adams, dengan lugas berkata, “Remember, democracy never lasts long. It soon wastes, exhausts, and murders itself. There never was a democracy yet that did not commit suicide.” Perkataannya memang benar adanya, namun John Adams tak pernah mengira bahwa demokrasi yang ia maksud asma-nya (nama) selalu hidup dan tidak pernah mati meskipun sejatinya zat-zat yang terkandung di dalamnya telah kehilangan sifat DNA ketuhanan yang maha esa dan perikemanusiaan yang adil dan beradab.

Fenomena kotak kosong pada Pilkada 2018 sesungguhnya hanya sebuah tengara bagi mereka yang eling dan waspada bahwa senyatanya demokrasi telah bermutasi menjadi demonkrasi (demoncracy). Demokrasi telah berubah sifat dan perilakunya menjadi demonik yang serba penuh dengan tipu daya kemesuman, kenistaan, cemar, kejam, bengis dan keji.

Kita hanya bisa berharap kotak kosong yang muncul di tengah proses demonkrasi semoga bukanlah sebuah pertanda jaman akan segera terbukanya kotak pandora yang akan melepas bencana kemanusiaan berupa kejahatan, kebencian, wabah penyakit, penderitaan, kesengsaraan, kesedihan, keputusasaan dan segala macam keburukan ke seluruh penjuru muka bumi. Semoga. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF