BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia
Korupsi Politik Makin Menjadi-jadi

Sebagai ketua umum partai (PPP), Romahurmuziy (Romy) tentu membutuhkan logistik yang besar dan banyak. Untuk menggerakkan partai dibutuhkan pundi-pundi finansial yang tidak sedikit. Tak ada logistik, maka tak ada kekuatan untuk bisa bersaing dalam Pemilu.

Logistik terkadang menjadi salah satu cara untuk menggenjot suara partai. Kebanyakan politisi atau elite-elite partai pat gulipat atau kongkalingkong dengan pihak-pihak tertentu demi mendapatkat dan dalam usaha mengumpulkan logistik. Logistik bisa digunakan untuk Pemilu, operasional partai, maupun yang lainnya.

Namun jika logistik yang didapatkan dilakukan dengan cara-cara haram, maka ujungnya akan berurusan dengan hukum.

Kasus korupsi yang dilakukan Romy ini hanya salah satu kasus. Bagaikan gunung es. Jadi jika ditelusuri dan dilacak, maka korupsi politik terjadi di mana-mana. Skalanya masif.Apalagi mendekati dan menjelang Pemilu 2019. Korupsi politik makin menjadi-jadi.

Namun penegak hukum kan hanya bisa menangkap yang terkena OTT. Yang tidak terkena OTT bisa saja jumlahnya lebih banyak lagi. Di musim Pemilu. Para politisi membutuhkan banyak pundi-pundi uang. Jadi jika tidak tahan godaan. Maka bisa saja melakukan cara-cara haram untuk mendapatkannya. Kita dorong KPK agar terus melacak kasus-kasus lain yang belum terungkap yang melibatkan para petinggi partai.

Pastinya kasus korupsi yang dilakukan Suryadharma Ali (SDA) menjadi pembelajaran bagi Romy. Namun karena sistem politik yang sudah rusak dan budaya setor menyetor (suap) sangat menggurita, makanya Romy terjebak dalam budaya korup yang sudah merusak bangsa ini.

Ketua umum partai politik. Termasuk Romy hanya manusia biasa. Kemungkinan untuk berbuat salah dan bertindak yang bertentangan dengan hukum sangat terbuka. Manusia biasa tempatnya salah dan dosa. Manusia biasa terkadang terpeleset atau jatuh karena hal-hal sepele dan hal-hal kecil.

Perjuangan berat bagi elite, kader, dan para Caleg PPP. Hanya soliditas dan kerja keras yang bisa menyelamatkan partai agar lolos parliamentary threshold (PT) 4 persen. Sebagai partai lama dan memiliki sejarah panjang dalam percaturan politik nasional. Kita berharap PPP lolos ke Senayan lagi.

Kasus yang menimpa Romi harus menjadi cambuk bagi para kader PPP untuk mengangkat harkat dan martabat partai agar bisa lolos PT. Langkah dan perjuangan berat memang. Tapi tak ada yang tak mungkin dalam politik. Peluang PPP lolos ke Senayan masih besar. Masih ada waktu satu bulan untuk recovery. Jadi, masih sangat terbuka bagi PPP untuk menatap Pemilu 2019 dengan kepala tegak. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Karena Tak Melibatkan Ahli Kesehatan             Perlu Rekayasa Kebijakan Naikkan Daya Beli             Civil Society Perlu Awasi Hitung Suara             Holding BUMN Penerbangan             Saatnya Rekonsiliasi             Klaim Prabowo-Sandi Perlu Dibuktikan             Perlu Sikap Kesatria Merespons Kekalahan Pilpres             KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha