BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik Internasional
Korupsi Hanya Bisa Dihilangkan Melalui Revolusi

Dalam sejarahnya, institusi antikorupsi tidak bertahan lama di negeri ini. Dari era Bung Karno hingga Soeharto selalu kandas sebelum tugasnya selesai. Terutama saat institusi tersebut mulai menyinggung orang-orang kuat yang berada di lingkaran kekuasaan. Dengan kata lain penindakan korupsi di Indonesia masih memandang bulu.

Di sisi lain, tradisi korupsi cenderung mengakar di masyarakat. Mungkin hal ini yang membuat Mohammad Hatta mengatakan bahwa korupsi di Indonesia itu adalah budaya. Dari pendapat ini pula Mochtar Lubis menyatakan bahwa korupsi itu sudah sistemik.

Dari penelusuran sejarah pun, para pakar telah banyak menulis masalah korupsi di Indonesia. Raffles dalam bukunya History of Java menulis bahwa pencuri ini sudah berakar di masyarakat. Oleh karena itu hanya revolusilah yang dapat menyelesaikan persoalan korupsi ini.

Jika kita melihat kepada pemerintahan Jokowi, yang mencanangkan revolusi mental, sejauh ini masih sulit untuk menyatakan berhasil atau tidaknya revolusi mental yang digaungkan oleh Jokowi, terutama dalam hal membasmi birokrasi yang korup. Namun yang pasti, hingga kini Jokowi masih terus konsisten untuk melakukan revolusi mental.

Akan tetapi dalam pembersihan oknum yang korup, masih ada pikir-pikir dalam menindak. Apabila menyinggung orang-orang yang mendukungnya naik menjadi presiden, masih ada kalkulasi politik yang dilakukan. Jika ia merasa kuat, kasus itu akan diteruskan. Namun bisa sebaliknya, sulit untuk diteruskan. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF