BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Lembaga untuk Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran (LETRAA)/Pemerhati Kebijakan Publik
Korupsi Anggota DPRD Kota Malang, Bukti Sistem yang Rapuh

Korupsi massal yang dilakukan anggota DPRD Kota Malang, ini membuktikan ada sebuah sistem yang rapuh dalam pengelolaan keuangan daerah di tingkat pemerintahan, di mana tidak terbangunnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses penyusunan dan pembahasan Ranperda/APBD.

Dalam skema politik anggaran, aktor utama dalam penyusunan dan pembahasan adalah eksekutif dan legislatif, dalam prosesnya ada beberapa kepentingan yang muncul antara lain kepentingan pribadi, kepentingan parpol, kepentingan korporasi dan kepentingan rakyat. Dari beberapa kepentingan inilah, komitmen anggota legislatif diuji. Sejauh mana mereka memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan yang lain. Yang perlu diwaspadai adalah para pemilik kepentingan yang mengejar keuntungan, mereka akan menancapkan oligarki dengan membangun relasi baik di tingkat eksekutif dan legislatif. Dalam hal ini contohnya cara meloloskan program maupun proyek, di mana orang yang memiliki kepentingan akan melakukan intervensi dalam pembahasan ranperda/APBD dan mereka mencoba memberikan janji/memberikan suap sebagai imbalan untuk meloloskan sebuah program/proyek. Cara bisa dilakukan langsung melalui aktor-aktor kunci yang memiliki pengaruh dalam pengelolaan keuangan daerah.  

Kasus suap yang terjadi pada parlemen di Malang atau di beberapa daerah, selain bicara soal sistem yang rapuh (tidak transparannya proses penyusunan dan pembahasan APBD), juga yang menarik adalah berbicara soal kelembagaan. Sejauhmana efektivitas kerja inspektorat dalam pembinaan dan pengawasan pengelolaan anggaran, karena selama ini saya menilai belum berjalan cukup efektif untuk mencegah terjadinya transaksional yang terjadi antara pihak eksekutif dan legislatif.

Apakah parpol bertanggung jawab juga dalam hal ini? Saya rasa iya, karena ini bicara pada persoalan komitmen yang dijanjikan oleh anggota kepada parpol. Karena apapun yang akan dilakukan oleh anggotanya akan mempengaruhi citra dari parpol tersebut. Pertanyaannya adalah apakah sudah terbangun sistem pengawasan dalam parpol untuk melakukan Monitoring dan evaluasi thd anggota-anggotanya yang duduk di parlemen, dalam menguji komitmen dan integritas. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF