BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)
Koperasi Model Perusahaan Paling Pas Era Revolusi 4.0 (Bagian-1)

Industri bisa saja berubah karena berbagai perkembangan teknologi. Tapi persoalan krusial model kepemilikan perusahaan itu menentukan sekali bagaimana sebuah bisnis akan berlaku adil  atau sebaliknya, menjadi semakin memeras dan menindas.

Era revolusi industri ke 4 ditandai dengan interkoneksi berbagai perangkat dan manajemen secara melompat. Internet of things, intelejensia artifisial, robotik kelas canggih, teknologi bio, telah membuat perusahaan menjadi bekerja lebih ramping dan  semakin produktif.

Perubahan yang terjadi membawa perubahan habitus baru. Orang serba dimudahkan dengan sambungan internet. Pola konsumsi, interaksi sosial, produksi barang dan jasa berubah semua. Dunia ada dalam gengaman tangan. Tapi pola relasi sosial yang diciptakan korporasi yang ada tetap saja subordinatif menindas.

Ada yang menarik dari perubahan revolusioner yang terjadi. Ternyata aksestabilitas yang serba canggih saat itu tidak merombak pola kepemilikkan perusahaan yang ada. Sebaliknya, pola kepemilikan yang terjadi justru membuat semakin konsentratif dan monopolistik. Sebut saja misalnya, dalam pola bisnis basis platform yang marak saat ini. Para pengguna dan agen tetap dalam posisi sebagai obyek dari eksploitasi baru.

Sebut misalnya dalam bisnis Gojek, Grab yang ada saat ini. Bisnis ini menjadi monopolistik dalam urusan transportasi. Konsumen dimanjakan, tapi agen-agennya seperti para pengemudinya semakin dieksploitasi. Mereka selain tak punya kuasa terhadap penentuan tarif juga sebagai penanggung risiko dari bisnis sepenuhnya tanpa adanya tanggungjawab sosial sedikitpun dari pemilik bisnis aplikasi. 

Anehnya lagi, aspirasi para pengemudi ini sudah berulangkali disuarakan, tapi pemerintah tak juga mampu berbuat apapun untuk mengintervensinya.

Konsumen yang berpola pragmatik semakin tak peduli dan mereka yang bekerja semakin tertindas saja.

Transportasi adalah salah satu bentuk layanan publik. Tapi layanan publik ini sekarang berada dalam kuasa pemilik aplikasi yang ternyata sudah dikuasai sepenuhnya oleh investor asing yang tujuanya hanya mengejar keuntungan. Pemerintahpun di depan mereka dibuat tak berdaya. Tak ada lagi perlindungan bagi para agen/pengemudi yang ada.

Tak hanya itu, fitur-fitur baru dalam bisnis antara telah berkembang.Tapi semua itu bekerja hanya demi menumpuk keuntungan yang semakin konsentratif pada pemilik aplikasi.

Kita seperti sedang disuguhi oleh satu peristiwa kolosal penindasan seperti yang digambarkan dalam film " hunger games". Para agen itu menjadi pihak yang semakin tak berdaya sementara konsumen dan pemilik aplikasi menjadi penikmatnya. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung