BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
Kontrol Terhadap Anak Harus Lebih Ditingkatkan

Pertama, KPAI mengapresiasi guru dan Kepala SMPN 18 Kota Pekanbaru yang sudah memiliki kepekaan dan menindaklanjuti hasil temuan dari puluhan siswanya yang melakukan sayat tangan. Sidak handphone dan laporan ke BNNK Pekanbaru oleh pihak sekolah adalah langkah tepat sehingga penyebab siswa menyayat tangan menjadi terang, bahwa hal itu dilakukan karena pengaruh video sayat tangan dengan benda tajam yang dilihat dari Instagram dan WhatsApp. Adapun tujuannya adalah untuk melampiaskan sakit hati atas masalah yang dialaminya.

Sekolah jangan berhenti sampai disini, sekolah harus segera berkoordinasi dengan para orangtua dari puluhan siswa tersebut, agar dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak-anak tersebut serta mencari stratagi yang tepat membantu anak-anak tersebut menyelesaikan masalahnya.

Para wali kelas dan guru BP/BK di sekolah dapat diberdayakan untuk membantu puluhan anak tersebut menghadapi masalahnya dan berupaya menyelesaikannya, bukan dengan lari dari masalah dan kemudian melakukan tindakan yang justru berbahaya bagi keselamatannya.

Kedua, kasus ini harus menjadi kewaspadaan bagi para orangtua yang memiliki anak-anak usia puber, mereka harus didampingi oleh orangtuanya dalam tumbuh kembangnya, karena diusia tersebut anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mencoba banyak hal.  Orangtua harus memiliki kepekaan terhadap perubahan sikap dan perilaku anak-anaknya.

Orangtua perlu meningkatkan kontrol terhadap anak-anaknya dan meningkatkan kualitas pertemanan dengan anak-anaknya sehingga anak selalu terbuka menceritakan setiap masalah yang dihadapinya dan orangtua selalu bersedia membimbing anak menyelesaikan persoalan yang dihadapinya hingga anak bisa mandiri.

Ketiga, fakta bahwa 56 siswa di Pekanbaru melakukan  sayat tangan dan mempercayai hal itu tidak akan menimbulkan rasa sakit sebagaimana isi video yang disaksikannya bahkan dapat melampiaskan kemarahan yang dirasakannya, maka fakta ini perlu ditindaklanjuti oleh instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas PPPA dan P2TP2A Kota Pekan Baru.

Harus ada langkah konkrit untuk melakukan rehabilitasi psikologis dan rehabilitasi kesehatan terhadap 56 siswa tersebut dan harus ada sosialisasi untuk mencegah dan memastikan bahwa siswa lainnya untuk tidak akan melakukan tindakan sayat tangan ketika sedang menghadapi masalah.

Keempat, KPAI akan bersurat kepada pemerintah kota Pekanbaru untuk mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan bersinergi melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah lainnya sebagai upaya mencegah anak lain di berbagai sekolah meniru adegan yang membahayakan di video tersebut dengan menyayat tangan.

Kelima, KPAI akan bersurat kepada Kemeninfo untuk memblokir video-video sejenis yang mengandung adegan berbahaya bagi anak-anak yang menyaksikannya, apalagi 70 persen perilaku anak adalah meniru apa yang dia lihat di lingkungannya dan di media sosialnya. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF