BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Aktivis PIJAR & Jaringan Aktivis PRODEM
Kontestasi Bukanlah Pertarungan Untuk Meniadakan Perbedaan

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berdiri pada 7 Oktober 2016 dan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinyatakan lolos mengikuti Pemilu 2019. Partai baru ini mengklaim sebagai partai yang membawa platform tentang solidaritas, pluralitas beragama, suku, dan bangsa.

Terkait adanya video PSI yang menuai kritik dari Partai Berkarya, saya melihat ini merupakan bentuk propaganda PSI dan upayanya untuk mendiskreditan Partai Berkarya yang diharapkan dapat menurunkan nilai elektoral Partai Berkarya dalam Pemilu 2019 nanti.

Apa yang dilakukan PSI ini, menurut saya tidak akan bisa meyakinkan publik dengan beberapa alasan berikut. Pertama,  video tersebut tidak mengindahkan etika politik, solidaritas dan pluralitas sebagaimana asas yang diklaim olehnya. PSI yang tidak pernah merasakan situasi sosial politik era Orde Baru akan dicurigai oleh publik menggunakan isu ini sebagai 'dagangan politik' semata dan terkesan 'pahlawan kesiangan'.

Alasan kedua, unggahan dalam video tersebut tidak menghadirkan dasar argumen dan fakta hukum yang bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada satupun pengadilan yang pernah digelar atas berbagai kasus pelanggaran yang diunggah itu hingga saat ini. Jikalau PSI ingin mengingatkan publik terhadap peristiwa-peristiwa politik yang kelam di masa lalu, kenapa tidak ditujukan kepada Presiden Jokowi yang pada kampanyenya berjanji akan menuntaskan seluruh pelanggaran HAM dan KKN di masa lalu? Dan kenapa PSI tidak menyinggung beberapa Jenderal seperti Sutiyoso dan AM Hendropriyono yang diduga terlibat dalam peristiwa kerusuhan 27 Juli dan Talang Sari di Lampung?

Seharusnya PSI sebagai partai baru fokus pada konsolidasi, kaderisasi, sosialisasi dan melakukan kerja-kerja konkrit di masyarakat misalnya pendampingan masyarakat desa, pendampingan masyarakat yang tergusur, pendampingan buruh yang mengalami perlakuan diskriminatif, dan lain lain yang justru akan sangat bermanfaat pada nilai elektoral partai mereka nanti di Pemilu 2019.

Kontestasi antar partai politik dalam era demokrasi dan di tahun politik adalah sebuah kewajaran. Hanya saja kontestasi tanpa pertarungan ide dan gagasan hanyalah menuai kegaduhan tanpa makna dan jauh dari tujuan pendidikan politik kepada publik. "Kontestasi bukanlah pertarungan untuk meniadakan perbedaan." (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung