BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Konsistensi Bank Indonesia Direspon Positif oleh Investor

Sebenarnya hampir semua mata uang non dolar AS menguat. Hal itu lebih karena sentimen pada mata uang dolar AS yang cenderung melemah. Di samping itu, memang betul rupiah menguat secara cukup signifikan. Termasuk yang paling tinggi penguatannya di antara mata uang yang lain.

Di lain hal, pada waktu rupiah melemah juga mengalami pelemahan yang lumayan dalam. Artinya, waktu melemah dulu, sebetulnya tidak didukung oleh faktor fundamental dan  bisa melemah ke level Rp15,200. Jadi kalau rupiah melemah sampai di atas Rp14,800 itu sudah overshooting atau kebablasan. Melemahnya tidak didukung oleh sisi fundamental.  

Nilai rupiah kita tidak melesat terlalu tinggi karena di awal tahun lalu rupiah berada di level Rp13,300 kemudian melemah sampai Rp15,200. Kita masih punya ruang yang cukup baik, tapi kita tidak bisa menghitung berapa level fundamental kita. Penentuan nilai rupiah itu tidak semata-mata demand supply tapi juga ada sentimen, itu yang tidak bisa diukur seberapa besar sentimennya.

Kalau dari sisi teoritis memang ada justifiksinya. Ada yang disebut real effective exchange rate, itu patokannya. Rupiah itu undervalue 10 persen dari nilai yang semestinya. Jadi kalau rupiah sekarang ada di level Rp14,500 per dolar AS--dan kita masih undervalue mungkin 8 persen--maka posisi rupiah sebenarnya Rp13,400. Itu masih bisa diterima secara teoritis menurut Real Effective Exchange Rate (REER).

Kalau bicara menurut selisih inflasi Indonesia, rupiah itu melemah hanya 1 persen karena Amerika inflasinya sekitar 2 persen dan Indonesia ada di 3 persen. Itu lagi-lagi teoritis menurut perbedaan inflasi.

Kalau dari sisi perbedaan suku bunga, BI ada di 6 persen dan The Fed di 2,25 persen, maka depresiasi rupiah yang wajar mestinya 4 persen. Kalau kita mengawali dari Rp13,300 per dolar AS di awal tahun lalu dengan depresiasi 4 persen, maka mestinya pelemahan--secara teoritis lagi-- ada di Rp13,800 per dolar AS.

Jadi secara teoritis saat ini sebenarnya rupiah berpotensi masih bisa menguat lagi.

Masuknya portofolio asing memang membantu, pertama, akan menambah devisa karena akan ditukar ke rupiah. Kemudian mereka belikan aset di Indonesia baik dalam bentuk obligasi maupun saham. Itu betul akan membantu penguatan rupiah. Kenapa mereka masuk, karena mereka melihat komitmen Bank Indonesia (BI) melakukan kebijakan yang konsisten. Artinya memang BI fokus di situ atau stabilisasi di rupiah.

Kosistensi kebijakan itulah yang direspon positif oleh asing. Konsistensi BI dalam melakukan kebijakan itulah yang diapresiasi oleh investor sehingga investor merasa cukup nyaman untuk masuk sekarang.

Kalau investor masuk sekarang dengan posisi di level Rp14,500 maka investor akan mendapat banyak rupiah untuk kemudian membeli aset di Indonesia.

Satu hal lagi, penguatan rupiah juga terbantu secara signifikan oleh komentar Gubernur Bank Sentral Amerika bahwa bunga “just below” dan kemungkinan besar kenaikan sukubunga The fed akan naik tidak terlalu banyak pada 2019. Itu membuat potensi mata uang dolar AS melemah belanjut dan rupiah menjadi menguat.

Implikasi untuk Indonesia yang harus diwaspadai, pertama, ketika rupiah menguat, ada semacam keyakinan bagi pelaku usaha untuk berproduksi lebih banyak. Kalau dia berproduksi lebih banyak, masalahnya bahan baku kita lebih banyak diimpor. Sehingga ketika rupiah menguat impor akan cenderung naik. Jika impor naik maka rupiah akan melemah lagi karena butuh valas lebih banyak.

Kedua, dari sisi positif ekonomi kita akan relatif lebih murah. artinya barang-barang yang diproduksi dengan rupiah yang menguat akan menjadi cukup murah dari segi biaya produksi. Akhirnya harga barang di dalam negeri bisa jadi lebih murah.

Implikasi ke makro, inflasi akan lebih terkendali karena tidak ada tekanan. Ditambah harga minyak mentah dunia sedang turun. Jadi ketika rupiah menguat dan harga minyak dunia turun maka hal itu jadi sesuatu yang baik karena tidak perlu mengimpor minyak mentah dengan jumlah dolar AS yang lebih besar. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir