BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel
Kongres V PDIP: Momentum Suksesi Kekuasaan

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sedang menyelenggarakan Kongres Ke-V di Bali dari tanggal 8-11 Agustus 2019. Agenda utama kongres yang menjadi perhatian utama masyarakat adalah pemilihan ketua umum baru. Hal ini karena Ibu Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum PDIP semenjak tahun 1999-2019 dan beberapa kali melontarkan pernyataan akan mengundurkan diri.

Sikap Megawati tersebut merupakan sikap yang rasional dan menjadi momentum terbaik bagi masa depan PDIP sebagai partai ideologis yang menganut ajaran nasionalis marhaenisme Soekarno.

Sebenarnya, sekarang banyak kader PDIP yang dari segi kapasitas dan popularitas sudah siap untuk memimpin PDIP dan Indonesia ke depan. Dari trah Soekarno terdapat politisi yang cukup dikenal seperti Puan Maharani, Puti Guntur Soekarno Putra, Prananda Prabowo. Dari luar trah Soekarno, ada Presiden Jokowi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Pramono Anung, dan lainnya. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa Megawati selama ini adalah sebagai sosok perekat dan pemersatu internal PDIP yang terbentuk dari fusi beberapa parpol seperti PNI, IPKI, Perkindo dan Murba.

Sirkulasi elite PDIP ini semua terpulang pada komitmen dan konsistensi Ibu Megawati Soekarno Putri sebagai figur sentral, apakah tetap mau sebagai ketua umum atau menyerahkan kepada kadernya sebagai estafet kepemimpinan PDIP di masa depan. Ibu Megawati Soekarnoputri harus berpikir strategis untuk mempertahankan eksistensi PDIP ke depan, 10 atau 20 tahun ke depan.

Dengan usia 72 tahun, Megawati harus menyadari  bahwa secara alamiah memiliki kelemahan dan keterbatasan. Oleh sebab itu sudah saatnya melakukan suksesi kepada kadernya. Jangan terpengaruh oleh dorongan kepentingan pragmatis yang banyak menyelimuti benak di para peserta kongres.

Secara psikologis hampir dipastikan keputusan peserta kongres V Bali ini bakal memilih kembali Ibu Megawati Soekarno sebagai Ketua Umum PDIP secara aklamasi. Untuk jangka panjang keputusan ini tidak baik bagi perkembangan dan masa depan partai. Jika terpilih lagi ini sebagai warning bagi PDIP sebagai partai yang tidak melakukan regenerasi.

Oleh karena itu untuk mempertahankan eksistensi dan ideologi partai idealnya dalam kongres V di Bali ini Megawati mengambil sikap yang bijaksana dan secara legowo menyerahkan suksesi kepemimpinan kepada Puan Maharani. Ini bukan kolusi dan nepotisme karena sosok Puan Maharani sudah memiliki kapasitas dan kapabilitas.  Di samping dia putri Megawati dan berasal dari trah Soekarno, Puan juga sudah teruji kepemimpinannya baik di parlemen maupun di pemerintahan.

Dalam suksesi itu Megawati cukup mengambil peran sebagai Ketua Dewan Pembina atau Dewan Pertimbangan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh almarhum Taufik Kiemas. Dibandingkan dengan kader lainnya, Puan juga bisa berfungsi sebagai perekat dan pemersatu dalam tubuh internal partai.

Kongres ini adalah momentum yang tepat bagi PDIP untuk melakukan suksesi dibandingkan jika suksesi dilakukan pasca Megawati. Tarik menarik kepentingan pasti terjadi, baik dalam trah Soekarno maupun antar partai yang tergabung dalam fusi.

Hal ini perlu dicermati secara seksama oleh kader, pengurus, dan pencinta PDIP bahwa secara genetika PDIP rawan terhadap konflik. Latar belakang PDIP lahir dari hasil konflik internal antara kubu Soerjadi dengan kubu Megawati yang berujung terjadinya peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli).

Sampai sekarang potensi konflik yang berujung pada perpecahan itu tetap masih ada. Oleh sebab itu jika tidak dikelola secara baik bukan tidak mungkin di masa yang akan datang PDIP mengalami nasib yang sama seperti yang dialami oleh Golkar.

Mudah-mudahan kongres V PDIP di Bali ini menghasil keputusan yang bijaksana demi kejayaan PDIP khususnya dan Indonesia pada umumnya. Selamat berkongres! (mry)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi