BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM
Konektivitas Visi dan Misi Presiden dengan Para Menteri KIM Lima Tahun ke Depan.

Tantangan tugas dan kerja lebih banyak dibanding waktu tersedia. Kira-kira demikian kondisi yang akan dihadapi para menteri Kabinet Indonesia Maju untuk lima tahun ke depan.

Belajar dari pengalaman para menteri di Kabinet Indonesia Kerja, lima tahun lalu serta di kabinet-kabinet sebelumnya, maka ada beberapa hal yang harus segera disadari oleh para pembantu presiden di Kabinet Indonesia Maju untuk dapat segera merealisasikan amanah presiden Republik Indonesia kurun waktu 2019-2024. Singkatnya para pembantu presiden tersebut harus mampu mewujudkan visi dan misi Presiden Joko Widodo untuk lima tahun ke depan.

Secara ringkas, visi dan misi Presiden Joko Widodo sudah disampaikan pada pidato perdana seusai pelantikkannya 20 Oktober 2019 yaitu: nilai PDB Indonesia pada tahun 2045, seabad Indonesia merdeka, akan mencapai 7 triliun dolar AS sehingga masuk dalam 5 besar kekuatan ekonomi dunia.

Hal tersebut akan diwujudkan melalui: (1). Pembangunan SDM dengan dukungan endowment fund dalam manajemen SDM serta kerjasama dengan industri; (2). Pembangunan infrastruktur yang meningkatkan konektivitas sehingga mempercepat nilai tambah ekonomi rakyat; (3). Deregulasi peraturan yang menghambat investasi dan perekonomian antara lain melalui omnibus law; (4). Penyederhanaan birokrasi pemerintahan yang mendukung investasi dan penciptaan lapangan kerja; serta (5). Transformasi ekonomi yang memberikan nilai tambah optimal terhadap barang dan jasa yang dimanufaktur dari sumberdaya alam Indonesia.

Hari pertama para ketika nmenteri duduk di ruang kerjanya masing-masing akan diperhadapkan banyak hal yang harus dikerjakan. Namun hal pertama yang juga sangat penting harus dimiliki setiap menteri adalah, membuat konektivitas antara lima misi presiden tersebut di atas dengan sektor atau bidang tugas kewenangan masing-masing.

Harus disusun agenda kerja per tahun dengan tema besar untuk lima tahun ke depan. Sehingga jelas target yang ingin dicapai oleh kementerian yang dipimpinnya. Kompetensi dan kepemimpinan seorang menteri menjadi kritikal pada tahap ini. Apabila menteri tersebut tidak mampu memberikan kejelasan konektivitas antara lima misi presiden dengan ruang lingkup kementeriannya maka dipastikan perjalanannya akan berat dan tanpa arah sehingga mudah diintervensi berbagai pihak menurut kepentingan masing-masing.

Secara khusus untuk para pembantu presiden di bidang perekonomian, sudah memiliki tantangan besar yang harus diselesaikan bersama karena berdampak sangat luas ke berbagai sektor, yaitu: defisit neraca berjalan (Current Account Deficit). Berbagai program sudah disusun terkait hal itu namun yang menjadi tantangan adalah sinergitas eksekusi program antara menko perekonomian serta menko maritim dan investasi di tengah situasi perekonomian global yang cenderung tidak menguntungkan Indonesia. Sebagai contoh pengurangan impor migas dengan program biodiesel B30 serta program kendaraan listrik. Semoga hal itu dapat diwujudkan karena kedua menko berasal dari partai yang sama.

Mengenai reaksi pasar terhadap susunan Kabinet Indonesia Maju masih dipahami sebagai dinamika responsif sesaat karena yang lebih penting ditunggu pasar adalah kebijakan dan eksekusi program-program ekonomi Kabinet Indonesia Maju. Hal ini setidaknya baru akan mulai terlihat dalam 3-4 bulan mendatang. Secara khusus pasar pasti akan menantikan langkah Erick Thohir sebagai menteri BUMN, apakah akan melanjutkan program-program menteri BUMN terdahulu atau muncul dengan kebijakan baru?

Pembentukan kabinet sudah menjadi semacam reality show di Indonesia. Selama beberapa pekan terakhir, semua mata di Indonesia tertuju pada pembentukan kabinet, sampai-sampai banyak beredar viral di medsos bermacam versi susunan kabinet Jokowi-Ma’ruf. Sekarang saatnya para pembantu presiden bekerja dengan prioritas secara cermat dan cekatan mewujudkan visi dan misi presiden dalam satu komando yaitu komando presiden bukan pihak lainnya. Semoga Indonesia benar-benar maju di mana segenap rakyatnya sejahtera bukan hanya para elitnya.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI