BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Kondisi Masih Defisit, tetapi Semoga Berkurang di Kuartal I 2019

Ihwal CAD (Current Account Devisit), nampaknya masih belum menunjukkan tanda perbaikan. Karena kita lihat di Januari 2019 masih defisit walau di Februari surplus. Tetapi, defisit di Januari cukup besar, jadi kemungkinan masih tetap defisit pada triwulan I/2019. Hanya, defisit nya berapa besar masih belum bisa dipastikan.

Kalau dilihat kondisinya, defisit diperkirakan masih di kisaran 2,8 sampai 3 persen dari PDB.

Hal itu disebabkan dalam komponen current account, pertama, masalah impor dan ekspor barang, dalam data BPS. Belum tampak data Maret untuk impor dan ekspor barang, kemungkin pada 15 April nanti baru ada datanya. Dari situ baru dapat dilihat kondisi CAD yang sebenarnya pada triwulan I 2019.

Komponen lain yang mendorong defisit adalah jasa-jasa. Jasa-jasa, selalu defisit dan tidak pernah surplus sejak lama. Hal itu disebabkan oleh pertama, kalau kita melakukan ekspor impor, pelayaran, pengiriman barang lewat laut ataupun asuransi barang, banyak menggunakan jasa luar negeri untuk kegiatan-kegiatan tersebut.

Kedua, banyaknya orang Indonesia yang ke luar negeri untuk berlibur, umroh dan lain sebagainya. Transaksi ke luar negeri itu pasti membebani karena termasuk jasa. Sebaliknya, pariwisata yang ke Indonesia masuk jasa-jasa tapi kategori ekspor jasa. Namun, nilai dari pariwisata mancanegara yang ke Indonesia daripada orang Indonesia ke luar negeri, nilainya lebih banyak orang Indonesia yang ke luar negeri daripada mancanegara ke dalam negeri.

Selain itu dari sisi neraca pendapatan, juga minus karena semakin banyak FDI (Foreign Direct Investment) yang dapat profit dan kita harus mengembalikan kepada pihak luar negeri. Jadi itulah konsekuensi kalau kita butuh
FDI ke dalam negeri.

Berikutnya adalah neraca pendapatan sekunder yaitu jasa tenaga kerja antara tenaga kerja asing dan tenaga kerja Indonesia. kategori itu Indonesia masih surplus.

Jadi, untuk dua komponen yaitu neraca jasa-jasa dan neraca pendapatan primer kita masih selalu defisit.

Kalau dari sisi neraca barang, tergantung kondisi ekspor impor kita. Sementara harga komoditas saat ini masih turun sedangkan struktur ekspor kita masih banyak di sumber daya alam. Itu yang menyebabkan kinerja ekspor kita di bawah angka impor yang berakibat defisit berkepanjangan sejak 2018. Hal itu memang tidak bisa kita hindari tapi mudah-mudahan kuartal I 2019 ini defisit akan berkurang.

Sebetulnya kalau untuk neraca barang CAD selalu dalam posisi defisit karena jasa defisit nya besar. dan pendapatan primer juga defisitnya besar. Neraca barang sempat surplus tapi seiring dengan harga komoditas yang turun dan struktur ekspor kita yang masih banyak di komoditas, maka otomatis kinerja ekspor kita juga turun.

Masalah impor, itu tergantung dari permintaan domestik terhadap barang luar negeri. Begitu pula dengan harga minyak mentah yang naik, ikut memperburuk kinerja neraca perdagangan, karena impor kita akan menjadi lebih mahal. Selama triwulan 1 2019 kemarin harga minyak mentah ada tren naik walaupun masih belum terlalu tinggi. Itu juga bisa jadi sebagai bagian dari beban impor kita. Olehkarenanya pemerintah punya upaya untuk mengurangi impor minyak agar pertamina menggunakan minyak dalam negeri. Dan sebagian dari minyak itu sudah dibeli oleh Pertamina. Hanya, hal itu berarti ekspor kita akan berkurang.

Jadi memang serba salah, kalau kita mau menggunakan minyak produksi dalam negeri untuk kegiatan energi maka otomatis ekspor minyak kita berkurang karena dipakai di dalam negeri.

Jelas masih perlu banyak perbaikan di sisi neraca eksternal dari kegiatan ekspor impor. Tentunya kita berharap kinerja ekspor akan lebih tinggi lagi. Caranya, harus ada pengembangan pasar. Jangan pasar yang itu-itu saja. Lalu pengembangan produk yang dijual harus lebih banyak lagi yang berbasis non komoditas. Hal itu tentu butuh waktu dan tidak semudah seperti membalikkan tangan. Dari sekarang seharusnya berbenah ke arah sana. Untuk diversifikasi pasar dan diversifikasi produk barang ekspor.

Sisi lainnya, kita perlu sekali untuk mengurangi impor. Caranya dengan membangun industri berbahan baku dari dalam negeri. Karena saat ini banyak bahan baku industri kita yang diimpor. Rata-rata bahan baku impor untuk industri kita bisa 60 persen. Apalagi bahan baku untuk pabrik obat, bisa 90 persen. Makanya kalau bisa kita membangun industri berbasis substitusi impor di dalam negeri untuk mengurangi bahan baku impor. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan