BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengajar Ekonomi Politik Internasional HI Universitas Prof Dr Moestopo Beragama
Kita Lemah dalam Industri Berorientasi Ekspor

Dalam penurunan nilai tukar kita sekarang, sebenarnya faktor yang lebih berpengaruh adalah faktor eksternal sebenarnya, terutama kondisi yang terjadi di Amerika Serikat sekarang. Ketika bank sentral Amerika menaikkan sukubunga yang mengakibatkan arus modal keluar (capital outflow) terutama untuk modal portofolio. Jadi ini memang riskan sekali, investasi yang cepat sekali masuk tapi lalu cepat sekali keluar. Apalagi portofolio kita 60 persen sekarang yang memiliki asing. Jadi bukan investor lokal. Sehingga asing kemudian lebih rawan untuk memindah-mindahkan modal sesuai dengan naluri pencarian profit mereka. Investasi yang kita harapkan adalah investasi penanaman modal langsung ketimbang portofolio.

Untuk defisit neraca pembayaran sendiri sebenarnya walaupun Indonesia memiliki kecenderungan defisit, tapi rasanya tidak ada gejolak yang kemudian membuat rupiah melemah sedemikian rupa. Bahkan sebenarnya aspek positifnya kalau nilai tukar kita melemah seperti sekarang harusnya hal ini malah bisa menggenjot ekspor kita. Ekonomi kita sebenarnya tidak ada dinamika yang terlalu negatif, tapi sepenuhnya adalah faktor eksternal akibat kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.

Saya setuju bahwa dalam jangka panjang kita lemah sekali dalam membangun sektor manufaktur sehingga kita tidak punya industri yang signifikan berorientasi ekspor. hal itu memang kelemahan struktural yang terjadi dalam perekonomian Indonesia yang dalam jangka panjang ke depan harus sudah mulai diperbaiki. Sektor manufaktur kita memang tidak cukup terbangun terutama sejak reformasi bergulir. Industrialisasi kita juga tidak mempunyai perencanaan. Sepertinya  setelah reformasi kita agak ‘trauma’ dengan kata-kata perencanaan pembangunan, sehingga kita memilih untuk melepaskan pada mekanisme pasar bebas, dan akhirnya Indonesia menjadi negara konsumtif. Tidak menjadi negara dengan industri yang berorientasi ekspor.

Sebenarnya pelemahan rupiah ini bagi negara yang berorientasi ekspor itu ‘menyenangkan’. Beberapa negara malah dengan sengaja tidak membuat mata uang nya untuk menjadi kuat. Karena mereka menginginkan ekspor negaranya lebih terdorong. Tapi buat Indonesia kelihatannya perubahannya tidak siginifikan dan struktur ekonomi/industri kita memang tidak disiapkan untuk itu. Jadi tidak banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pelemahan nilai tukar rupiah sekarang. Sekarang nuansanya malah ‘berkabung’ dan keprihatinan dengan pelemahan nilai tukar rupiah ini. Ini menunjukkan memang kita tidak punya orientasi ekspor. impor kita juga menjadi terbebani akibat pelemahan rupiah ini.

Impor kita terjadi pada sektor-sektor yang vital dalam perekonomian kita. Seperti migas yang menjadi salah satu penyumbang defisit dan sektor pangan. Keduanya merupakan sektor yang dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat. Itu yang kemudian kalau tidak bisa diantisipasi maka efek pelemahan rupiah bisa fatal. (pso)

 

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung