BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia
Kinerja Memang Naik,Tapi Bukan Akselerasi

Jika dilihat dari pertumbuhan setiap tahun sebetulnya terus tumbuh. Ihwal meningkatnya aset, itu memang terjadi setiap tahun. Tetapi tingkat pertumbuhannya tidak signifikan. Seperti misalnya tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 4 tahun ini hanya 5 persen, maka setiap tahun selalu saja hanya 5 persen. Begitu pula dengan pertumbuhan kinerja keuangan BUMN setiap tahun yang bisa dikatakan stabil tetapi angka nya tidak berbeda jauh. Kalau dikatakan ada peningkatan signifikan dalam artian akselerasi, tentu tidak. Tapi pertumbuhannya hanya sebegitu saja, tidak beranjak jauh.

Perbandingan dengan kinerja BUMN Malaysia, itu disebabkan oleh faktor musiman saja. Kebetulan saja BUMN Khazanah sedang mengalami keguncangan sehingga jatuh dari sisi keuntungan. Apakah kemudian dengan kejadian sekali itu lalu bisa mengclaim bahwa BUMN Indonesia sudah berhasil melewati BUMN Malaysia, maka itu harus dilihat lagi ke depan. Apakah BUMN Malasyia akan kembali bangkit, dan apakah BUMN nasional akan mempunyai akselerasi kinerja. Maka hal itu tentu tidak bisa di claim pada sesaat seperti sekarang.

BUMN Indonesia dari sisi aset memang membaik, begitu pula dari sisi permodalan dan Capex. Tapi pertumbuhannya hanya sebegitu saja. Jadi tidak bisa digeneralisir karena BUMN yang satu dengan yang lain berbeda-beda performanya. BUMN Karya pun tidak semuanya punya Debt to Equity Ratio (DER) yang buruk. Tetapi kalau BUMN Waskita Karya mungkin memang salah satu yang buruk. Lain halnya  dengan PT Pembangunan Perumahan (PP) itu sekarang sedang bagus, walau sama-sama BUMN Karya.

Apalagi kalau dibandingkan dengan BUMN di sektor-sektor lain seperti Perbankan yang memang bagus sekali. Kalau Pertamina, karena banyak intervensi jadi agak kurang baik. Tetapi belum tentu juga capex dan asetnya turun. Malah naik terus setiap tahun, hanya naiknya kecil saja.

Audit untuk lembaga seperti BUMN memang ada, tetapi untuk auditing biasanya ada “lack”, jadi tidak bisa setiap habis tahun bisa melihat langsung hasilnya.

Jadi secara makro memang sepertinya naik terus, tapi ada beberapa hal yang agak terselubung. Seperti contoh DER dari sebagian besar BUMN karya yang punya beban utang seperti itu, maka untuk menambah modal kerja proyek lagi dengan berutang, sudah berisiko besar. Hal itu karena utang nya sudah beberapa kali dari nilai equity nya. Jadi financing nya agak berat dan perlu adanya bermacam bantuan entah dalam bentuk PMN (Penyertaan Modal Negara) atau dalam bentuk lain.

Tetapi bantuan yang diberikanpun semestinya bukan bantuan operasional--bukan Opex, tetapi Capex atau belanja modal. Jadi secara makro begitulah performa BUMN kita saat ini. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan