BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Ketika Mayoritas Cuma Pemain Pinggiran

Pembebasan Abubakar Bakar Ba'asyir jelas politis. Tujuannya tentu saja untuk mengambil hati kaum garis keras, yang belakangan ini meningkatkan serangan politik ke Jokowi. Pembebasan ini tampaknya terkait dengan kegagalan membungkam kubu oposisi, yang tetap garang meski telah ditangkapi dan ditersangkakan satu per satu.

Selain itu, pembebasan tersebut juga terkait dengan kebutuhan memperoleh suntikan dana segar dari negara-negara Arab kaya minyak. Ini karena utang luar negeri pemerintah terus meroket, sementara kepercayaan dari pasar merosot. Akibatnya yield atau bunga utang dolar pemerintah RI saat ini tertinggi di Asia.

Lihat saja bunga  utang dolar pemerintah berjangka watu 10 tahun, yang dalam catatan Asian Development Bank sampai 17 Januari lalu  mencapai 8,89 persen. Badingkan dengan Thailand  yang 2,465 persen, Malaysia 4,059. Filipina 6,482 persen, dan Jepang 0,016 persen. Maka jelas,  meski masih jauh di bawah PDB, namun beban bunganya tergolong kelas super berat.

Maka, sebelum terperosok lebih jauh, pemerintah perlu mencari sumber utang baru. Untuk inilah tampaknya pendekatan kepada sumber-sumber keuangan di Timur Tengah, yang dekat dengan kubu Ba'asyir dkk, perlu digiatkan. Sumber utama ini tentu saja Arab Saudi, yang memiliki cadangan minyak terbesaf di dunia.

Berharap pada investor Barat dan Jepang berbaik hati dengan menawarkan bunga lebih rendah tampaknya mustahil. Sebaliknya, mereka malah terus menuntut pemerintah menaikkan yield/suku bunga obligasinya karena dinilai berisiko tinggi.

Mereka paham betul risiko yang dihadapi Indonesia karena membangun infrastruktur secara besar-besaran tanpa tender. Mereka bukanlah orang awam yang terpukau dengan berbagai pencitraan yang telah membuai berjuta orang Indonesia.

Namun apakah para penguasa di negara-negara Arab kaya minyak bisa terbuai oleh pembebasan Abu Bakar Ba'asyir, masih terlalu pagi untuk berspekulasi. Yang pasti, para penguasa disana juga mempercayakan perputaran uangnya kepada para fund manager kelas dunia, yang kebanyakan berasal dari Eropa dan Amerika Serikat.

Pertimbangan politik memang kerap jadi pertimbangan penting dalam konteks perluasan dan penguatan jaringan negara-negara kaya minyak tersebut. Saudi yang merupakan superpower di kalangan negara Arab kaya minyak berambisi menjadi pemimpin dan mengerdilkan Iran di dunia Islam. Melalui pendukungnya di seluruh dunia,  termasuk Indonesia,  mereka membangun opini bahwa Syiah adalah aliran sesat.

Pemerintah Indonesia tentu paham bahwa Saudi tak hanya sedang memperbesar pengaruh di dunia Islam,  namun juga berusaha keras untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada minyak.  Untuk ini Saudi menebar miliaran dollar AS ke seluruh dunia. Lihat saja,  lembaga investasi pemerintah Saudi telah membenamkan 45 miliar dolar AS ke Softbank di Jepang, dan masih banyak lagi dollar yang ditebar untuk ditanamkan di sektor teknologi di berbagai negara maju Asia seperti Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, dan China.

Di Malaysia, Saudi telah memutuskan investasi sebanyak 7 miliar dolar AS untuk membangun kilang minyak, belum termasuk berbagai proyek komersial lainnya.

Tinggal kita lihat saja,  apakah Saudi akan terpikat oleh sikap makin bersahabat Jokowi kepada kaum garis keras dukungan Saudi atau tidak. Dia atas kertas Indonesia memang strategis karena merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Hanya saja, dalam urusan bisnis, kaum mayoritasnya cuma pemain pinggiran. Maka wajar kalau ada kekuatiran, pada akhirnya modal yang mereka benamkan di Indonesia membuat para penguasa bisnis makin kaya. Sedangkan saudara seiman Saudi tetap berstatus pembantu atau bodyguard tuan rumah di negeri sendiri. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF