BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.
Kepercayaan Lokal Tidak Bertentangan dengan Pancasila

Agama/kepercayaan lokal tidak bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sebab kata "Esa" dalam Ketuhanan Yang Maha "Esa" tidaklah sama dengan pengertian "Eka". Eka dalam bahasa Sansekerta berarti "satu",  sementara "esa" bukanlah bahasa Sansekerta, melainkan berasal dari bahasa Pali, sebuah daerah yang diyakini sebagai asal kelahiran Sidharta Gautama.  

Esa pada bahasa Pali dalam maknanya yang generik bukanlah sebutan nominal angka satu seperti dalam bahasa Sansekerta, namun bermakna entitas yang "serba melingkupi" atau "serba mengatasi" apapun. Dan entitas yang seperti itu sebenarnya juga dimiliki dan melekat pada konsep Tuhan yang dianut oleh agama-agama besar lain yang berasal dari luar Nusantara, tak terkecuali agama samawi.

Pengambilan kata "Esa" dari bahasa Pali oleh bapak pendiri bangsa, Soekarno, adalah upaya sadar sekadar-sadarnya atas makna identik dan sejati dari kata "Esa" berdasarkan kenyataan atas keberadaan banyaknya para penganut agama/ kepercayaan lain di luar konsepsi agama-agama besar atau "agama impor" tersebut.

Jika itu bukan usaha sadar sekadar-sadarnya atas adanya keragaman yang jauh lebih luas di banyak tempat atas realitas penganutan atas agama/kepercayaan lokal, mungkin kalimat yang digunakan pada sila pertama sejak awal mungkin adalah "Ketuhanan Yang Maha Eka"  seperti dalam penggunaan "Eka Prasetya Panca Karsa", misalnya.  Atau menggunakan "Ketuhanan Yang Maha Ika" seperti dalam penggunaan "Bhinneka Tunggal Ika".

Meski sejak awal berdirinya republik pula dalam rangka meyakinkan tokoh-tokoh Islam pendiri republik lainnya, harus diakui dinarasikan pula oleh pentolan lain pendiri republik bahwa "Esa" dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu identik dengan kalimat tauhid.  

Selamat untuk keputusan MK tersebut, dan selamat untuk para sahabat penganut agama dan kepercayaan lokal. (jim)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan