BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Program INDEF
Kepastian Regulasi Sektor Migas

Masalah akut yang mempengaruhi perekonomian RI dari sektor migas adalah konsumsi minyak yang telah naik dua kali lipat besarnya dari produksi.

Bukan hal mudah untuk kembali menaikkan produksi atau angka lifting minyak. Saat ini jumlah kendaran bermotor telah bertambah berkali kali-lipat. Sepeda motor bertambah menjadi 5 juta unit tiap tahun. Mobil bertambah 1 juta unit tiap tahun. Sementara impor migas telah lebih besar dari ekspor. Padahal neraca perdagangan Indonesia acap kali surplus.

Agar tekanan terhadap rupiah berkurang, maka mau tidak mau impor migas harus dikurangi. Namun kenyataannya lifting minyak terus saja turun. Defisit migas telah menyebabkan rupiah melemah. Korelasinya amat kuat dari pelemahan rupiah oleh sebab impor minyak yang tinggi.

Produksi minyak dalam negeri mengalami penurunan sejak 2014. Padahal rata-rata investasi migas membutuhkan waktu sejak eksplorasi awal paling tidak 3 tahun. Itulah sebabnya pada 2021 produksi minyak akan lebih turun lagi.

Ihwal lelang blok migas yang tidak laku itu--kalah dari Mozambique--dikarenakan Indonesia selalu tidak konsisten dalam policy atau kebijakan. Regulasinya berubah-ubah. Contohnya dalam kasus blok Masela yang sampai saat ini belum kunjung ada kepastian. Ada kesemrawutan dalam konsistensi policy. Regulasi audit dalam sharing kontrak juga tidak ada kepastian. Sepertinya terlalu banyak pihak yang campur tangan dalam urusan migas ini.

Eksplorasi migas yang potensial hanya terdapat di laut lepas yang jauh dan mahal.

Sekarang, pemerintah harus berani memastikan sistem kontak migas mana yang akan dipakai. Sharing PSC atau Gross Split system. Mengatur hal itu tentu saja harus melalui satu Undang-undang yang pasti dan mengikat. Tidak bisa hanya dengan regulasi setingkat PP. Indonesia sepertinya lebih cocok jika menggunakan model PSC Sharing. (pso)  

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan