BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)
Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi

Harus diupayakan untuk menakar risiko dari faktor eksternal. Asumsi makro capaian pertumbuhan ekonomi yang semuanya akan bermuara pada PDB. Sayang, faktor eksternal saat ini seolah menjadi kambing hitam.

Semua negara terlihat mengeluh dalam hal optimisme pada 2020. Hal itu disebabkan oleh trade war Amerika Serikat (AS) dan China yang berlarut-larut yang mempengaruhi kinerja harga komoditas menjadi semakin menurun. Tetapi, faktor risiko eksternal sebetulnya bisa menjadi kendala atau justru menjadi peluang bagi Indonesia.

Pada RAPBN 2020 terlihat pemerintah telah menargetkan nilai penerimaan dan pengeluaran yang lebih tinggi, tetapi menjadi pertanyaan, mengapa target pertumbuhan ekonomi 2020 ditetapkan sama yakni sebesar 5,3 persen?

Pertumbuhan ekonomi global memang akan menurun sebesar 1,2 persen untuk perdagangan. Efek dari currency war AS – China yang kemudian memanaskan kembali trade war kedua negara tersebut. Bagi Presiden AS memanasnya kembali trade war justru menguntungkan secara elektoral, karena di AS saat ini isu trade war justru menjadi andalan bagi para calon presiden AS mendatang untuk meningkatkan elektabilitas. Tetapi, bagi perekonomian internasional trade war jelas berpengaruh besar.

Di tingkat ASEAN pertumbuhan ekonomi diperkirakan berkisar 5 persen. di dalam negeri target pertumbuhan ekonomi pada triwulan I berkisar 5,05 persen dan sampai akhir tahun 2019 jelas tidak akan mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.

Investasi dan perdagangan pada level global memang menurun. Oleh karena itu harus dipetakan kembali mana negara-negara yang potensial akan menjadi investor bagi Indonesia. Pada negara-negara emerging market investasi FDI memang tercatat naik tetapi secara global FDI turun. Sementara ke negara berkembang lain cukup tinggi, tetapi apakah investasi ke Indonesia juga menjadi tinggi, itu masih menjadi pertanyaan. Secara  arus-inflow investasi pada 2018 masih berkisar 13 persen, artinya masih ada cukup peluang investasi yang masuk ke dalam negeri.

Terkait adanya rencana pembentukan Kementerian Investasi atau Kementerian Ekspor, diperkirakan tidak akan banyak berpengaruh terhadap kinerja investasi. Inflasi yang ditetapkan maksimal 3,1 persen juga akan berat karena untuk saat ini saja inflasi sudah menyentuh angka 3,3 persen.

Yang penting harus dilakukan dalam menjaga inflasi adalah mengendalikan harga pengan untuk menekan inflasi karena hal itu langsung menyangkut daya beli masyarakat.

Rate rupiah sekarang termasuk dalam 15 negara di dunia yang mengalami Current Account Defisit (CAD) dari 2,6 persen CAD menjadi 3 persen. Angka CAD 3 persen sudah termasuk lampu kuning. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

M. Rizal Taufikurahman, Dr.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-2)             Perlu Revisi Undang-Undang dan Peningkatan SDM Perikanan di Daerah             Antisipasi Lewat Bauran Kebijakan Fiskal – Moneter             Perkuat Industri Karet, Furnitur, Elektronik Hadapi Resesi             Skala Krisis Mendatang Lebih Besar dari 1998