BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kendalikan Ekspektasi Liar dari Pelemahan Mata Uang

Tekanan terhadap rupiah memang cukup banyak. Kondisi internal perekonomian kita juga masih perlu terus dipantau. Sebagaimana yang pernah kami sampaikan, memang tekanan dari emerging market dan tekanan penguatan ekonomi USA sedikit banyak menekan rupiah. Namun kondisi internal kita juga tak kalah tertekannya. Terakhir rilis BPS mengenai defisit neraca perdagangan/current account deficit Agustus 2018 juga semakin mengkhawatirkan. Dimana kinerja ekspor dibanding periode yang sama tahun yang lalu mengalami penurunan, surplus nya turun terutama ekspor migas dan non migas, juga defisit neraca migas semakin membesar yang pada akhirnya turut menekan rupiah.

Kami sepakat bahwa kita harus mengendalikan rupiah ini secara cukup taktis. Karena memang dampaknya juga cukup besar. Kalau bicara pelemahan, sebenarnya sampai Rp15.500 per dolar AS itu masih di bawah tren pelemahan global dengan emerging market yang lain. Cuma yang harus diwaspadai adalah dampak psikologisnya. Berdasarkan hitungan kami, yang bermain di jangka pendek ini lebih banyak ekspektasi liar. Yang mana tekanan dari fundamental memang ada pengaruhnya, dan tekanan eksternal juga cukup berpengaruh. Tapi yang paling besar pengaruhnya adalah ekspektasi liar tadi. Ketika terjadi kecenderungan depresiasi maka market cenderung kehilangan trust terhadap rupiah. Faktor itu yang harus dijaga.

Jika pelemahan terus menuju ke level Rp15.000 – Rp.15.500 per dolar AS maka kecenderungan terjadinya ekspektasi liar kemungkinan akan terjadi. Jadi ada dampak psikologis. Secara fundamental kita memang ada masalah, tapi tidak begitu signifikan di jangka pendek ketimbang dampak psikologis ke arah ekspektasi liar dari market. Menurut simulasi kami hal itu cukup signifikan berpengaruh.

Kalau memang nanti terjadi depresiasi secara persisten atas rupiah, apalagi ada kenaikan sukubunga ‘the fed’, maka moment of truth nya memang di awal 2019. Di situ kita berharap rupiah kemudian bisa arif dan persisten untuk mempertahankan dirinya dari serangan-serangan eksternal tadi.

Hasil simulasi kami, depresiasi rupiah ini bukanlah hal baik bagi kita, meski ada beberapa pandangan yang menyatakan depresiasi rupiah bisa kita manfaatkan untuk windfall profit dari APBN, itu betul, tapi yang harus dilihat adalah, kita tidak melihat APBN. Tapi kita melihat balance sheet perekonomian secara utuh. Sehingga menurut simulasi kami depresiasi ini berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi. Jadi di kwartal III 2018 mungkin tumbuh 5,08 persen berdasarkan proyeksi kami, dan di kwartal ke IV 2018 paling maksimal 4,9 persen.

Jadi ada semacam penurunan di kwartal II 2018, kalau misalnya tekanan terhadap rupiah ini tidak segera diatasi maka ada potensi penurunan itu. Karena, pertama, 90 persen kebutuhan komponen impor paling besar adalah untuk kebutuhan industri. Hal itu sangat peka terhadap gejolak rupiah dan akan berdampak negatif terhadap industri di jangka panjang. Maka dari itu harus segera ditanggulangi. Caranya, ada langkah di jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Untuk jangka pendek BI yang harus berperan antara lain sukubunga acuan BI dinaikkan jika ‘the fed’ juga menaikkan sukubunganya. Jadi menunggu momentum, karena karakter kenaikan sukubunga itu non monotonic. Jangan agresif, karena kalau agresif malah akan menimbulkan efek tekanan terhadap rupiah. Kenaikan sukubunga acuan sifatnya hanya ‘obat’ di jangka pendek dari BI.

Begitu juga dengan kemungkinan adanya capital control untuk membendung ekspektasi liar. Capital control memang topik yang kontroversial, dan sudah disampaikan oleh pemenang nobel Kruggman, bahwa capital control adalah satu metode yang mungkin manjur untuk negara-negara seperti Indonesia yang dipenuhi oleh ekspektasi liar. Cuma masalahnya, ketika kita memutuskan itu, akan timbul potensi untuk capital outflow. Karena investor ada kecenderungan takut untuk dikontrol.

Berikutnya masih dalam topik capital control yaitu Reverse Tobin Tax. Investor luar negeri diberikan insentif pajak. Tobin Tax termasuk konsep yang light daripada capital control model Kruggman. Tobin Tax dapat diterapkan untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif.

Langkah berikutnya mungkin dengan memfungsikan channeling dari trade finance atau pembiayaan ekspor dari perbankan kita, sehingga bisa menggiatkan ekspor dan devisa hasil ekspor (DHE) bisa dikendalikan di perbankan kita. Sebab, selama ini ekspor kita yang membiayai lebih banyak perbankan Singapura. Oleh karena itu DHE kita lebih banyak di sana. Itu yang mungkin dilakukan oleh BI.

Dari sisi Pemerintah, sebetulnya punya ‘obat’ di jangka pendek. Apa yang sudah dilakukan pemerintah sebenarnya termasuk obat di jangka pendek. PPh Impor dan TKDN, tapi itu—seperti yang pernah saya sampaikan--agak kurang maknanya ketimbang kita memotong subsidi BBM. Potong subsidi BBM jauh lebih tepat.

Memang hal itu bukan solusi struktural, karena kalau bicara ekspor kita harus bicara bagaimana industri kita, itu butuh waktu jangka panjang. Yang kita mungkin lakukan di jangka pendek, setidaknya untuk mengurangi tekanan di ekspektasi liar tadi--yang mana pemantiknya adalah dari current account deficit--maka harus dibenahi CAD itu. salah satunya adalah dengan memotong subsidi BBM.

Pertumbuhan ekonomi 2018 nanti maksimal sebesar 5,08 persen. Karena kita juga mengalami beberapa kali kenaikan sukubunga dan itu berpengaruh. Konsumsi masyarakat juga akan sulit tumbuh lagi seperti di kuartal II 2018 kemarin, karena di sana ada beberapa intervensi dari kenaikan THR dan gaji ke 13 yang menyumbang signifikan. Sekarang, tidak ada intervensi model itu lagi di kuartal III dan IV 2018. Yang ada malah sukubunga acuan naik dan impor barang konsumsi kena PPh impor pasal 22. Meskipun nanti mekanismenya tidak langsung ke harga tapi ada potensi untuk meningkatkan inflasi, yang akan menurunkan konsumsi dan daya beli. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan