BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Humas dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
Kemerdekaan Ekonomi yang Terbelenggu Neoliberalisme

Sebenarnya saat ini sulit melihat wajah perekonomian nasional sebagaimana yang tercatat di dalam konstitusi berwujud di tanah lapang bernama Indonesia. Hal ini karena perkembangan sejarah ekonomi bangsa yang telah tercekat oleh gurita ekonomi liberal, dengan rantai-rantai kapitalisme yang masuk hingga ke sudut-sudut terkecil dan sifatnya domestik warga. 

Kisah pedagang kecil yang harus minggir oleh ritel-ritel berwajah 'nasional' adalah masalah yang kini kita lihat. Pedagang kecil akan kalah produknya oleh harga miring yang ditawarkan ritel yang menerima barang-barang yang diproduksi secara massal dengan biaya manusia yang semakin kecil atau buruh-buruh yang dibayar murah.

Gurita kapitalisme ini memang seolah berwajah ramah, karena menampung tenaga kerja dan menghadirkan produk dengan harga murah, jika dibandingkan dengan produk industri rumahan rakyat, tapi sesungguhnya hanya menegaskan tegaknya piramida ekonomi yang dikuasai oleh oligarki ekonomi. Rakyat terus tergencet ke pinggiran hingga batas putus asa yang bisa mereka emban. Sementara ritel-ritel itu terus 'menyumbangkan' keuntungan bagi pemilik modal hingga jumlah yang menakjubkan.

Salah satu contoh yang paling miris adalah, orang-orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan rokok, yang mempekerjakan buruh murah dan membeli bahan baku dari petani dengan harga murah juga. Pekerja dan petani tetap hidup dalam kemiskinan yang semakin dalam, tapi pemilik perusahaan bisa semakin jauh melesat di puncak kekuasaan ekonomi. Mereka adalah korporatokrat yang bahkan bisa menggiring bangsa ini ke arah manapun, bahkan menggendalikan ruh konstitusi menurut selera 'dagang' mereka.

Jika sudah begini, siapa pun akan bertekuk lutut, baik politikus yang berkuasa atau pun yang beroposisi. Tak ada keyakinan bahwa oposisi akan bisa mengubah ini, bahkan Prabowo yang sudah berkoar tentang ekonomi bangsa yang berdikari. Perilaku bisnis mereka pun sama saja, bahkan lebih 'fasis' dan 'firaunis'.

Penyakit ini sudah mengendap di dalam nadi bangsa ini, bahkan sejak awal kemerdekaan direbut. Ada upaya koreksi yang dilakukan oleh Soekarno misalnya untuk kasus 'konsesi yang berwajah ramah bagi kepentingan nasional atas tambang Freeport'. Tapi yang terjadi ia malah terdepak dan seluruh bangunan rezimnya dihancurkan. Beberapa hal juga dilakukan oleh Abdurrahman Wahid dalam proses nasionalisasi aset-aset ekonomi. Lagi-lagi ia juga dijatuhkan di tengah jalan.

Hal yang dilakukan Jokowi sebenarnya cukup tepat, dengan meniti buih di antara kepentingan global, terutama Amerika Serikat, yang telah lama berurat di bangsa ini. Upaya divestasi kepentingan AS harus terus dilakukan, agar bangsa ini bisa berdikari secara ekonomi. Tapi tentu harus hati-hati agar tidak di-Asad-kan atau di-Saddam-kan. Kekuatan ekonomi global itu sesungguhnya lebih kejam dibandingan politik global.

Yang jelas, derita pedagang dan petani kecil harus tetap hidup di imajinasi elite bangsa ini. Karena sesungguhnya dari mata dan wajah mereka kita bisa melihat Indonesia yang sebenarnya. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)