BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Kemelut Tujuh Presiden dan Lima Ideologi

Novel PW Singer Ghost Fleet terbit 2015 yang tergolong pesimist ramalkan "dooms day" boleh juga kita waspadai. Tapi yang lebih penting adalah elite kita harus berdamai dengan bangsanya sendiri karena situasi dan kondisi perpolitikan kita ini penuh kemunafikan. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan pola petahana vs oposisi. Fungsi oposisi adalah jadi pengingat dan pengawas serta siap jadi alternatif pemegang kekuasaan negara. Tapi gara-gara ideologi manunggal otoriter era Orde Baru maka telanjur oposisi itu diharamkan. Kalau oposisi diharamkan, yang timbul ya perlawanan bawah tanah (klandestin) atau pemberontakan, atau radikalisme, ekstemisme jihadisme. Itu yang terjadi di dunia. Meminjam istilah sistim politik, berada pada tahap budaya politiknya belum berkeadaban untuk berkonflik secara argumentatif lewat voting from the bullet to the ballot

Indonesia memiliki 7 presiden, di tengah 3-5 ideologi besar (tergantung dari bagaimana kita menempatkan beberapa ideologi lintas kultural pasca berakhirnya Perang Dingin). Di zaman pra modern, sebelum ada ideologi nation state, sudah ada tribalisme yang hukumnya ya hukum rimba. Siapa kuat dia menang. Titik. Itu yang dikutip Thucydides dalam berbagai buku yang sekarang dipopulerkan oleh dua jenderal, Prabowo dan Gatot Nurmantyo. Proxy war.

Dalam konteks empiris historis, semua bangsa terkena sindrom center periperi, dalam sejarah sistem dunia sejak Immanuel Wallerstein menulis buku klasiknya The Modern Word System. Selama milenium pertama sudah berlangsung perang antara tribal dan imperium lkal regional di Eropa dan Timur Tengah hingga Perang Salib sampai abad ke-13 dan munculnya imperium Mongol Genghis Khan sebagai imperium terbesar nomor tiga di dunia. Beberapa penguasa "nasional pra modern" sempat berperang di Timteng seperti Acadia, Asyria, Babylonia, Carthago (Tunisia) Mesir, Persia, Turki, serta Yunani dan Romawi.

Setelah itu masuk era penjarahan harta karun Amerindian oleh Spanyol melahirkan Pax Hispanica, negara terkaya tapi tergerus inflasi dan kemunduran digantikan oleh Pax Neerlandica, Belanda memonopoli perdagangan Nusantara, menjadi imperium terkaya karena menikmati rente monopoli perdagangan. Kemudian muncul imperium Inggris berkat revolusi industri. Siapa yang memproduksi better mousetrap ya menikmai keuntungan dari bisnis produk baru, hasil revolusi industri pemberi nilai tambah. 

Ideologi Perang Salib sempat terkubur oleh dominasi dan hegemoni kolonialisme dan imperialisme Eropa Barat terhadap Timur Tengah. Abad ke-19, lahir ideologi komunisme sebagai reaksi terhadap mengguritanya kapitalisme liberal, persaingan antar nation state yang berbeda tahapan industrialisasinya menimbulkan ideologi fasisme Jerman. Inilah yang mencetuskan Perang Dunia II. Setelah ideologi fasisme kanan ditaklukkan, maka justru komunisme menjadi tandingan ideologi kapitalis liberal yang sebetulnya sudah mawas diri dengan jaminan sosial welfare state dan intervensi Keynesian mengatasi kegagalan pasar era depresi 1929.

Kapitalisme Jerman dan Jepang bangkit pasca perang dunia dan komunisme di Soviet dan Tiongkok bangkrut, sehingga masuk era The End of History-nya Francis Fukuyama, akhir Perang Dingin dan munculnya Demokrasi liberal kapitalis Barat sebagai pemenang dan penentu sistem politik dunia. Ternyata harapan Fukuyama gagal karena secara mendadak bangkit lagi ideologi era Perang Salib, dunia terpecah tiga peradaban Islam, Barat, dan Confucius.

Perang peradaban ini berlangsung paralel dengan konflik Timur Tengah dengan akar masalah Israel-Palestina, serta residu historis chauvinisme partisan bekas imperium zaman pra modern. Referendum Kurdistan menuntut kemerdekaan dan negara baru mengubah peta Timur Tengah. Itulah peta geopolitik dan ideologi yang dihadapi presiden Indonesia.

Jadi lucu sekali kalau sekarang kita menjadi yang paling takut terhadap hantu komunisme. Maka bagi yang mengerti sejarah, perkembangan ideologi dari awal pra modern sampai sekarang ini dengan pelbagai konflik fasisme, marxisme, kapitalisme, jihadisme, kabilisme kalifahisme  Pancasila ingin mengambil yang terbaik, eklektik dari pelbagai ideologi itu yang bila diterapkan secara ekstrem sudah terbuki kegagalannya. Maukah kita belajar dari sejarah empiris? (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI